Larangan Membuka Aib Diri Sendiri (Mujaharoh)

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, katanya: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. bersabda: “Setiap umatku itu dimaafkan, kecuali orang-orang yang mujahir (suka menampak-nampakkan kejahatan/maksiatnya sendiri dengan rasa bangga, atau melakukan maksiat di depan umum, tahu jika salah tetapi dia terus melakukan maksiat tersebut). Sesungguhnya (termasuk) mujahir ialah jikalau seorang melakukan sesuatu perbuatan -dosa- di waktu malam, kemudian di pagi hari, sedangkan Allah telah menutupi keburukannya itu, tiba-tiba ia berkata -pada pagi harinya itu-: “Hai Fulan, saya tadi malam melakukan demikian, demikian.” Orang itu semalaman telah ditutupi oleh Allah celanya, tetapi pagi-pagi ia membuka tutup Allah yang diberikan kepadanya itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Mujaharoh ada dua:

  1. Langsung melakukan maksiat di depan umum. Dia telah menyebabkan kecelakaan bagi dirinya (mendzalimi diri sendiri) dan bagi orang lain (ketika maksiat di depan orang lain dia memancing orang lain melakukan maksiat yang semisal atau menjadikan orang lain menganggap enteng maksiat tersebut).

Kesalehan seseorang adalah bagaimana ia mengamalkan ilmu yang ia pelajari. Orang yang beramal karna tidak ikhlas maka ia akan dilempar ke neraka wal’iyadzubillah. “siapa mencari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap ridha Allah (namun ia malah niatkan untuk mendapat kedudukan di kalangan manusia) maka ia akan dicampakkan ke neraka”

  1. Orang itu melakukan kemaksiatan sembunyi-sembunyi tapi kemudian ia sebarkan meskipun hanya ke teman dekatnya, tidak di depan umum.

Semoga Allah menggolongkan kita termasuk orang yang mendapat ampunan dan menjauhkan kita dari menjadi orang yang mujahhir. Aamiin

Faedah hadits:

  1. Mujaharoh (pamer dosa) adalah dosa tersendiri selain dosa yang dilakukan karna mujaharoh sesungguhnya adalah menyepelekan keagungan Allah, bagaimana tidak, Allah sudah tutupi maksiat yang ia lakukan tetapi ia justru menampakkannya dan mujaharoh itu mengandung unsur keras kepala .

Setiap dosa di bawah kesyirikan di bawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak akan Allah ampuni dan jika Allah berkehendak akan Allah adzab.

  1. Mujaharoh adalah termasuk menyebarkan faahisyah di kalangan kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang suka jikalau keburukan (faahisyah) itu merata -tersebar- di kalangan orang-orang yang beriman, maka orang-orang yang bersikap demikian itu akan memperoleh siksa yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat.”

Malu adalah bagian dari iman. Malu bermaksiat bukan munafik tapi itu adalah iman. Sebagian orang di zaman ini mengatakan malu bermaksiat dengan munafik, istilah ini bertolak belakang 180o

  1. Orang yang ditutup aibnya oleh Allah di dunia maka Allah juga akan menutupi aibnya di akherat dan tidak akan mempermalukan dia. Jika kita pernah maksiat maka rahasiakanlah, jangan diceritakan apalagi dengan bangga, tugas kita adalah bertaubat. Jika kita menceritakan maksiat untuk mengambil ibroh tidak termasuk mujaharoh jika tidak mengurangi kehormatannya. Adapun jika pernah berzina hendaknya dirahasiakan karna hal tersebut sangat pribadi dan bisa mengurangi kehormatan
  2. Dalam mujaharoh mengandung 5 kejahatan:
    1. Dosa yang dia pamerkan adalah kejahatan
    2. Dia menyebut-nyebut dosa tersebut setelah dia laksanakan atau dia laksanakan di depan manusia meskipun dengan satu orang, na’udzubillahi min dzalik. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita
    3. Menyingkap tabir yang telah ditutupkan Allah kepadanya.
    4. Menggerakkan / memancing / membangkitkan keinginan hasrat untuk berbuat buruk. Dia memancing orang yang mendengar maksiat yang ia ceritakan atau menyaksikan maksiat yang ia ceritakan untuk melakukan maksiat yang sama dengan yang ia lakukan.

“Siapa yang menunjukkan kepada satu kejahatan maka dia kan mendapatkan keburukan dari dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat…”

Dia menyebabkan keburukan menimpa dirinya dan menyebabkan keburukan menimpa orang lain
5. Mempersiapkan sebab dan jalan untuk maksiat. Orang yang menjadi sebab kebaikan maka dia dapat pahala, begitu juga dalam keburukan.

“siapa yang mempersiapkan (kebutuhan) bagi seorang pejuang maka dia pejuang”

Menutup Aib Orang Lain Di Dunia, Allah Akan Tutupi Aib Kita Di Hari Kiamat

 

Dari Abu Hurairah radhiyallhu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tiada seorang hambapun yang menutupi cela/aib seorang hamba yang lainnya di dunia, melainkan ia akan ditutupi cela/aibnya oleh Allah pada hari kiamat.” (Riwayat Muslim)

Keterangan:

Orang-orang yang dihinakan akan diadili di depan semua orang.

Menutup aib ada dua kemungkinan: yang terpuji dan yang tercela

Al jazaau min jinsil amal : orang yg menutup aib saudaranya maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat. Balasan yang kita terima dari Allah jauh lebih bayak dari amalan yang kita lakukan di muka bumi

“Barangsiapa yang membebaskan kesulitan-kesulitan dari saudaranya di dunia maka Allah akan bebaskan membebaskannya dari kesulitan di hari kiamat”

Balasan Allah jauh lebih besar dari apa yang kita amalkan, kalau bukan karna rahmat Allah niscaya kita tidak bisa masuk surga.

“tidak ada seorang pun yang masuk surga karna amalnya. Sahabat: sampai engaku ya rasulullah. Nabi: ya, saya juga. Hanya saja Allah sudah merahmatiku sehingga aku bisa masuk surga”

Syaikh Utsaimin: menutup aib ada dua macam:

  1. Menutup yang terpuji

Apabila yang melakukan kesalahan seorang yang shalih yang biasanya tidak melakukan kesalahan. Mungkin dia tidak sengaja, ketika itu sedang terdorong hawa nafsu, mayoritas hidupnya dipenuhi ketaatan, maka lebih utama menutupinya dan ini tidak berarti tidak menasehatinya.

  1. Menutup yang kurang terpuji bahkan tercela

Menutupi aib orang yang menggampangkan maksiat, dia sering melakukan kesalahan dan menyepelekan kesalahan dia.

 

Ketika akan menutup aib saudara kita kita harus mempertimbangkan mashlahat dan madharat, jika maslahat menutupi lebih besar maka kita tutupi tapi jika mashlahat menyebarkannya lebih besar maka tidak kita tutupi dan jika antara mashlahat dan madharat sama maka yang lebih baik menutupinya. Wallahu a’lam

 

Faedah hadits

  1. Siapa yang menutup aib hamba di dunia maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Barangkali dosanya akan diampuni oleh Allah bisa dengan Allah tidak menanyakan dosanya atau kalaupun ditanyakan Allah tidak akan mempermalukan dia di depan seorang mahluk. “wahai hambaKu, karna engkau telah menutupi dosa saudaaramu / engkau telah bertaubat setelah maksiat di dunia maka Aku pada hari ini akan menutupi aibmu”
  2. Balasan sesuai dengan jenis amal yang ia kerjakan. Orang yang membebaskan budak maka akan Allah bebaskan dari api neraka. Orang yang syahid di dunia maka di akherat akan dibangkitkan dalam darahnya berbau misk. Orang yang menahan makan dan minum karna Allah maka allah akan jauhkan dia dari api neraka 70 musim.
  3. Siapa yang melihat kesalahan dari saudaranya maka dia seyogyanya untuk menutupi kesalahan tersebut. Syaikh Rabi sebelum menerbitkan buku untuk menasehati seorang dai di saudi beliau terus menasehati dai tersebut. Ketika si dai terus menerus dalam kesalahan baru beliau keluarkan buku mengenai dai tersebut.

“kalau keduanya ingin kedamaian maka Alah akan beri taufiq/kemudahan”

Dinasehati dan ditutupi, tidak dinasehati di depan umum karna hal ini termasuk menjelek-jelekan.

  1. Seorang muslim adalah cerminan dari saudaranya. Muslim itu adalah bagian dari dia sendiri, kalau temannya jelek maka dia akan jelek, kalau dia menjelek-jelekan temannya maka ia akan jelek. “muslim dengan muslim lainnya seperti satu tubuh”.
  2. Allah ta’ala Maha Pemalu dan memiliki sifat menutupi. Allah ta’ala mencintai rasa malu dan ditutupnya aib. “iman itu ada 60 sekian cabang atau 70 sekian cabang, yang paling tinggi adalah laa ilaaha ilallah yang paling rendah menyingkirkan duri dari jalan dan malu sebagian dari iman”.
    “rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan”.
    “jika kamu tidak malu lakukan semaumu”.
    Malu yang sesungguhnya adalah menjaga kepala yang ada di dalamnya dan menjaga perut dan apa yang ada di dalamnya.

Ada orang yang menjalankan syariat malu misalnya malu berjilbab maka ini bukan malu yang syar’i (al hayaa) tapi namanya tapi al khojal

Menutupi Aurat (Aib) Kaum Muslimin Dan Melarang Untuk Menyiar-nyiarkannya Tanpa Adanya Kepentingan Darurat

 

Larangan Menyukai Tersebarnya Berita Fahisyah (Keburukan)

Yang disebut aurat kaum muslimin maksudnya terbagi menjadi dua, ada yang bersifat konkret dan abstrak.

  • Aurat yang konkret: anggota tubuh yang tidak boleh kita pandang.

Aurat laki-laki:

  • Sebagian ulama: antara pusat sampai lutut. Namun yang lebih kuat paha bukan aurat tetapi lebih utama tidak dibuka di hadapan manusia.

Aurat wanita:

  • Sebagian ulama: aurat wanita adalah seluruh tubuh. Sebagian ulama yang lain: aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Kebanyakan kaum pria menutupi aurat lebih rapat dari kaum wanita, banyak diantara wanita yang tidak menutupi kaki bagian bawahnya dan keebanyakan kaum pria memakai kemeja dengan lengan panjang sedangkan wanita hanya memakai lengan pendek atau bahkan yang lebih parah hanya memakai tank top.

  • Aurat maknawi/abstrak: aib, perbuatan buruk, baik aib yang sifatnya akhlak ataupun amal/perbuatan.

Setiap bani adam pasti melakukan kesalahan, sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertaubat.

Ada dua macam kesalahan manusia: dengan sengaja atau tidak sengaja

Apabila dengan sengaja ini dinamakan dzalim. Jika tidak sengaja (karna tidak tahu) ini dinamakan jahil (bodoh).

“Sesunggunya manusia itu banyak berlaku dzalim dan banyak berlaku jahul”

Manusia tidak lepas dari tiga kondisi:

  1. Mendapat nikmat dan dia wajib bersyukur
  2. Mendapat musibah dan dia wajib bersabar
  3. Melakukan dosa dan dia wajib berisitghfar (bertaubat)

Mudah-mudahan kita termasuk ketiga golongan di atas. Karna tiga perkara itu adalah tanda kebahagiaan seseorang.

Yang harus kita camkan, kewaijban kita adalah menutupi kesalahan saudara kita, jangan menyebarkannya, sebagaimana kita ingin kesalahan kita ditutupi dan tidak disebar.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu pelayan Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai bagi saudaranya (sesama muslim) segala sesuatu yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Jika saudara kita membohongi kita dalam jual beli sekali atau dua kali maka jangan disebarkan dulu, kita nasehati dia dan jika dia tidak berubah dan bermuamalah dengan orang lain dengan kecurangan maka tidak ada salahnya kita umumkan aibnya.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang suka jikalau keburukan(faahisyah) itu merata -tersebar- di kalangan orang-orang yang beriman, maka orang-orang yang bersikap demikian itu akan memperoleh siksa yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat.” (QS. An-Nur:19)

Allah ta’ala menerangkan bahwa orang-orang yang menyukai tersebarnya berita keji di kalangan kaum muslimin maka dia akan diancam azab yang pedih di dunia dan akhirat. Ini baru menyukai maka bagaimana dengan orang yang benar-benar menyebarkan? Na’uzubillahi mindzalik

Ada dua makna dalam menafsirkan mahabbatussuyuuil faahisyah (yang suka jikalau keburukan(faahisyah) itu merata -tersebar-)

  1. Cinta/senang dengan tersebarnya keburukan di kalangan muslimin saja. Diantaranya orang-orang yang senang menyebarkan film-film porno dan majalah-majalah pelacuran atau porno. Orang-orang yang semacam ini tidak diragukan lagi termasuk orang yang suka menyebarkan faahisyah di kalangan masyarakat muslim. Dan dia menginginkan dengan tersebarnya itu seorang muslim terfitnah (rusak akhlaknya), baik dirusak pada agama dia karna tersebarnya majalah-majalah. Dan yang demikian juga memberi kesempatan kepada mereka para penyebar padahal dia mampu untuk melarangnya (termasuk kepala keluarga, ketua RT, kecamatan, kabupaten, gubernur, presiden).

Termasuk faahisyah adalah selfie yang menarik yang bisa memfitnah/menggoda/membuat jantung lawan jenis berdebar-debar. Saya wasiatkan kepada mahasiswa dan mahasiswi agar tidak berselfie dan tidak menupload di internet.

Seseorang yang sengaja bermaksiat misal berzina dan dia menyebar videonya jika kita ridha maka termasuk juga, jangan-jangan kita termasuk dari mereka, na’uzdubillahi min dzalik

  1. Suka dengan tersebarnya berita faahisyah di orang2 tertentu, yakni gossip/berita burung/desas desus. Misal: si fulan melakukan demikian demikian tanpa sumber yang jelas. Sumber2 berita buruk biasanya dari orang fasik. Misal: kejadian ‘aisyah, orang2 hanya menyindir ‘aisyah: ‘apa yg dilakukan pemuda dan pemudi di tempat yang sepi yang tidak ada orang lain selain keduanya?”

Dan kecintaan yang kedua ini bukan di seluruh masyarakat tapi hanya pada person, contohnya berita fitnah terhadap ‘aisyah. Berita tentang kebohongan ‘aisyah adalah masyhur, kebiasan nabi kalau akan mengadakan sebuah perjalanan beliau biasanya mengundi siapa yang berhak ikut safar. Pelajaran: mengajak istri safar adalah nilai tersendiri / keistimewaan bagi istri. Ini bentuk keadilan nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Siapa saja yang keluar namanya maka ia akan keluar bersama nabi, ketika itu beliau mengundi dan yang keluar dalam undian adalah ‘aisyah. ‘aisyah adalah istri yang paling dicintai nabi. Akhirnya ‘aisyah diangkat di atas keranda kereta boyong (haudaj), suatu saat mereka bermalam dan ‘aisyah keluar dari haudaj untuk buang hajat. Qadarullah wa maa syaa-a fa’ala, ketika itu nabi memerintahkan untuk berangkat lagi dan tidak dibisa dibedakan apakah  ‘aisyah ada di dalam atau tidak. Ketika ‘aisyah kembali pasukan tidak ada dan beliau tetap tinggal di tempat itu, saat itu datanglah shafwan bin muaththal. Munculnya shafwan saat munculnya matahari. Shafwan baru bangun saat matahari baru terbit, dia melihat ‘aisyah dan mengenalinya. Shafwan dan ‘aisyah tidak becakap-cakap sepatah kata pun. Ketika waktu dhuha ‘aisyah dan shafwan sampai di madinah dan orang-orang munafik melihat perkara tersebut dan mereka melihat celah untuk mencela nabi. Yang mereka tuju bukan ‘aisyah tapi nabi, kalo istrinya seperti itu maka berarti pilihan nabi salah.

Kita sebagai seorang mukmin dilarang menyebar berita yang tidak jelas.

Diantara sahabat yang terjerumus dalam menyebarkan berita tidak jelas itu adalah: hasan bin tsabit, hamnah bin jahsy, misthah.

Hamnah saudari zainab bin jahsy, istri nabi zainab tidak terlibat dalam penyebaran berita ini, padahal biasanya jika ada madu melakukan kesalahan maka madu yang lain biasanya ikut menjelek-jelekan. ‘aisyah saat itu sakit dan dia tidak tahu kabar yang ada di luar.

Munafik tidak didera karna mereka tidak menyebarkan berita dengan sharih akan tetapi hanya sindiran-sindiran.

HAKEKAT DAN KEDUDUKAN TAUHID

Syarah Kitabut Tauhid

BAB 1

TAUHID (HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA)

بسم الله الرحمن الحيم

Para ulama memulai kitabnya dengan بسم الله الرحمن الحيم karena:

  1. Mencontoh Al Qur’an. Al Qur’an diawali dengan بسم الله الرحمن الحيم
  2. Mencontoh Nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam. Beliau ketika menulis surat yang ditujukan kepada para pembesar suatu negeri seperti romawi dan persia diawali surat beliau dengan بسم الله الرحمن الحيم

Faedah menulis بسم الله الرحمن الحيم :

  1. Untuk isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah
  2. Untuk mengharap barakah. Barakah adalah bertambahnya kebaikan dan tetapnya kebaikn tersebut

Setelah menulis بسم الله الرحمن الحيم, Syaikh Muhammad At Tamimi memulai kitabnya dengan menulis كتاب اتوحيد (Kitaabu Tauhiid). Mengapa beliau tidak memulai muqadimah (pembukaan) kitab beliau dengan khutbatul hajjah?

  1. Maksud dari muqadimah adalah untuk menjelaskan apa yang akan dibahas dalam kitab (buku) dan judul “kitab tauhid” sudah cukup untuk menjelaskan
  2. Dalam rangka beradab kepada Allah. Tauhid adalah hak Allah. Allah lebih layak untuk menjelaskan tauhid.

Tauhid itu sendiri secara bahasa arab berasal dari kata ( وحّد- يوحّد-توحيدا ) yang artinya menjadikan sesuatu itu menjadi satu.

Tidak mungkin menjadikan sesuatu menjadi satu kecuali terpenuhi dua rukun yaitu nafyu (meniadakan selain sesuatu) dan itsbat (menetapkan sesuatu tersebut).

Misalnya: kita katakan,” Zaid sedang duduk di dalam masjid” maka statemen itu hanya itsbat (menetapkan) saja, yang berarti ada kemungkinan bahwa ada orang lain yang duduk di dalam masjid selain Zaid karena kita tidak menafikan (meniadakan) selain Zaid yang duduk di masjid tersebut.

Sedangkan jika kita katakan, “ Tidak ada yang duduk di dalam masjid kecuali Zaid” maka dalam hal ini sudah terpenuhi dua rukun. Yang pertama kita meniadakan bahwa tidak ada seorang yang duduk dalam masjid dan yang kedua kita menetapan bahwa hanya Zaid yang duduk dalam masjid sehingga dari statemen di atas hanya ada satu kemungkinan yaitu yang duduk di masjid hanya Zaid saja, tidak ada yang lain. Oleh karena itu makna kalimat tauhid لا اله لاالله adalah tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, jadi kita meniadakans egala yang disembah selain Allah dan menetapkan bahwa hanya Allah saja yang berhak diibadahi dengan benar, segala yang disembah selain Allah adalah bathil (salah).

Tauhid secara istilah syari’at bermakna mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan asma wa shifat-Nya.

  1. Tauhid rububiyah (Mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya) adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya. Kita meyakini bahwa hanya Allah saja yang mampu menciptakan alam semesta, mgatur alam semesta, menghidupkan lagi mematikan, memberi rizki kepada para mahluk, yang akan mengadili dengan seadil-adilnya di hari kiamat, dll yang merupakan kekhususan bagi Allah dan hanya Allah yang mampu melakukan hal tersebut.
  2. Tauhid uluhiyah (Mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya) adalah mengesakan Allah dalam ibadah (perbuatan hamba). Ibadah merupakan perbuatan hamba yang hanya boleh ditujukan kepada Allah. Segala ibadah baik doa, sholat, puasa, zakat, haji, nazar, sembelihan, istighosah, takut, harap, tawakal, dll hanya boleh kita tujukan kepada Allah saja, tidak kepada yang lain. Mengenai makna ibadah akan datang penjelasannya nanti.
  3. Tauhid asma wa shifat (Mengesakan Allah dalam nama-nama dan shifat-Nya) adalah menetapkan nama-nama dan sifat Allah sesuai sebagaimana yang ditetapkan Allah dan rasul-Nya sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Manusia dan jin diciptakan dengan suatu tujuan tertentu sebagaimana dalam ayat berikut:

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون[ِ (الذريات:56)

Artinya:

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).

Apa itu ibadah?

Makna ibadah secara bahasa: merendahkan diri dan tunduk patuh

Makna ibadah secara syar’i:

  • Secara umum: merendahkan diri yang perendahan ini didasari kecintaan dan pengagungan yang kita wujudkan dengan melakukan perintah dan menjauhi larangandengan apa-apa yang sesuai dengan syariat.
    Fungsi dari definisi ini adalah: untuk menunjukkan sah tidaknya suatu ibadah
  • Secara khusus: sesuai definisi ibnu taimiyyah yaitu ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir)

Kaedah: Perbuatan apa saja yang merupakan ibadah maka menujukan kepada Allah adalah tauhid dan memalingkan kepada selain Allah adalah syirik akbar

Dalil kaedah ini sangat banyak, diantarnya:

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا

wa’budullaha walaa tusyriku bihi syaiaa

artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. ” (QS. An-Nisaa:36)

Contoh: doa adalah ibadah, maka jika dipalingkan kepada selain Allah maka syirik akbar.

 

Ibadah itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu perkataan dan perbuatan

Ibadah yang merupakan perkataan juga dibagi menjadi dua yaitu ibadah perkataan yang lahir dan yang batin

1. ibadah perkataan yang lahir. contohnya: dzikir, membaca Al Qur’an, berdakwah, dll

2. ibadah perkataan yang batin. contohnya: niat, keyakinan, dll

 

Ibadah yang merupakan perbuatan juga dibagi menjadi dua yaitu ibadah perbuatan yang lahir dan yang batin

1. ibadah perbuatan yang lahir. contohnya: sholat, puasa, zakat, haji, dll

2. ibadah perbuatan yang batin. contohnya: cinta, takut, harap, tawakal, dll

 

Sebagaimana yang telah kita ketahui, kita diciptakan Allah untuk beribadah hanya kepada-Nya dengan cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Tauhid merupakan kunci masuk surga dan hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah karena Allah telah memberikan kita hidayah iman dan islam yang hal ini merupakan nikmat yang sangat besar dan hendaknya kita selalu menjaganya sebgai wujud syukur kita kepada Allah Ta’ala. Ada beberapa alasan mengapa kita harus senantiasa memuji Allah Ta’ala:

  1. Allah satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna, tidak ada aib sedikitpun, Allah sempurna dalam rububiyah, nama-nama dan sifat-Nya.
  2. Begitu banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat terbesar adalah nikmat iman dan cara kita mensyukurinya adalah dengan berusaha agar nikmat Islam dan sunnah tetap ada pada diri kita, tetap istiqomah dalam beragama dan salah satu caranya adalah dengan tetap menuntut ilmu agama.

Dalam masalah akidah (keyakinan) seorang tidak boleh taklid buta melainkan dia harus mengambil keyakinannya bersumber dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih meskipun dia tidak menghafalnya.

Kitab tauhid ini menjelaskan mengenai tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, meninggalkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah dan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya, dan perkara-perkara yang bisa meniadakan tauhid baik  secara keseluruhan maupun sebagian.

Kedudukan tauhid

  1. Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya

(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون (الذريات:56

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).

Ayat ini menunjukkan tauhid: Allah menciptakan manusia dengan satu tujuan yaitu hanya beribadah (mentauhidkan) Allah Ta’ala.

Syaikh alu syaikh menjelaskan bahwa: Dalam ayat ini ada unsur pembatasan, huruf maa (ما) nafi disertai huruf illa (الا) maka hal ini menunjukkan pembatasan maka makna ayat ini adalah Aku telah ciptakan jin dan manusia untuk tujuan yang satu yaitu ibadah bukan tujuan lainnya

Syaikh fauzan menjelaskan bahwa: Ayat ini menjelaskan makna tauhid. Yaitu yang dimaksud tauhid adalah ibadah. Dan bukanlah tauhid yang dituntut Allah hanya sekedar menetapkan Allah dalam rububiyyah. Makna yang diinginkan Allah dalam ayat-ayatnya adalah tauhid ibadah.

Makna tauhid: mengikhlaskan/memurnikah ibadah hanya kepada Allah Ta’ala.

  1. Hikmah diutusnya para Rasul

Para Rasul diutus untuk menjelaskan tauhid.

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت(النحل: من الآية:36

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut([1]).” (QS. An Nahl, 36).

Ibnu abbas berkata: manusia selama 10 qurun waktu hidup di atas tauhid. Pada masa itu Allah tidak mengutus seorang rasul pun,yang ada adalah nabi, baru diutus rasul ketika terjadi pelanggaran tauhid uluhiyyah yaitu zaman nabi Nuh ‘alaihissalam. Tidaklah terjadi penyimpangan dari suatu kaum melainkan akan Allah utus bagi kaum tersebut rasul.

  1. Tauhid adalah hal pertama yang Allah perintahkan dalam kewajiban-kewajiban.

]وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا[

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”(QS. Al Isra’, 23-24).

]قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[

“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 151-153).

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang tertera di atasnya  cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanahu wata’ala : “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.([2])

  1. Tauhid hak Allah atas seorang hamba.

Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu berkata :

كنت رديف النبي  على حمار، فقال لي :” يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : ” لا تبشرهم فيتكلوا “.

“Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku : “ wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena Khawatir mereka nanti bersikap pasrah”([3]) (HR. Bukhari, Muslim).

 

    Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini :

  1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah Ta’ala.
  2. Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.
  3. Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada  Allah Tabaroka wata’ala inilah sebenarnya makna firman Allah :

]ولا أنتم عابدون ما أعب[

“Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun, 3)

  1. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].
  2. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.
  3. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [mengesakan Allah Subhanahu wata’ala saja].
  4. Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut.

Dan inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wata’ala :

]فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى[

“Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah, 256).

  1. Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah.
  2. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, didalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.
  3. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra’ mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah :

]لا تجعل مع الله إلها آخر فتقعد مذموما مخذولا[

“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra’, 22).

Dan diakhiri dengan firmanNya :

]ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى في جهنم ملوما مدحورا[

“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al Isra’, 39).

 

Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya:

]ذلك مما أوحى إليك ربك من الحكمة[

“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra’, 39).

  1. Satu ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’, disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya:

] واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا [

“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’, 36).

  1. Perlu diingat wasiat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di saat akhir hayat beliau.
  2. Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.
  3. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.
  4. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat([4]).
  5. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.
  6. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.
  7. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.
  8. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
  9. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.
  10. Kerendahan hati Rasulullah, sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.
  11. Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.
  12. Keutamaan Muadz bin Jabal..

([1])   Thoghut ialah : setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.

([2])   Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.

([3])  Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.

Pengantar Kitab Tauhid

PENGANTAR

الحمد لله الذي جعل التوحيد قاعدة الإسلام وأصله ورأسه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وصلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه. أما بعد :

Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan. Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidullah, menurut tuntunan Islam, yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.

Allah Ta’ala berfirman :

]مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُون[ (النحل:97)

“Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. An Nahl, 97 )

Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap muslim mempelajarinya.Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan SifatNya.

Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah, bahkan mengakui keesaan dan kemahakuasaan Allah dengan meminta kepada Allah melalui Asma’ dan SifatNya. Kaum jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah. ( Lihat Al Qur’an 38 : 82, 31 : 25, 23 : 84-89 ). Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim, yang beriman kepada Allah Ta’ala.

Dari sini timbullah pertanyaan : “Apakah hakekat tauhid itu ?”

Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu : menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekuen dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepadaNya.

Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW. ( Lihat Al Qur’an 16 : 36, 21 : 25, 7 : 59, 65,73,85, dan lain-lain )

Maka buku dihadapan pembaca ini mempunyai arti penting dan berharga sekali untuk mengetahui hakekat tauhid dan kemudian menjadikannya sebagai pegangan hidup.

Buku ini ditulis oleh seorang ulama yang giat dan tekun dalam kegiatan da’wah Islamiyah. Beliau adalah syekh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi, yang dilahirkan di Uyainah, tahun 1115 H (1703 M), dan meninggal di Dir’iyyah  (Saudi Arabia) tahun 1206 H (1792 M).

Keadaan umat Islam, dengan berbagai bentuk amalan dan kepercayaan pada masa hidupnya, yang menyimpang dari makna tauhid, telah mendorong syekh Muhammad bersama para muridnya untuk melancarkan da’wah Islamiyah guna mengingatkan umat agar kembali kepada tauhid yang murni.

Perbedaan Hadats dan Najis

Tanya:

jelaskan perbedaan hadast dan najis
“imam”

Jawab:


Hadats adalah sebuah hukum yang ditujukan pada tubuh seseorang dimana karena hukum tersebut dia tidak boleh mengerjakan shalat.

Hadats ini berkaitan dengan pelaku/orangnya sedangkan najis berkaitan dengan objek yang mengenai seseorang

Hadats terbagi menjadi dua:

  1. Hadats besar yaitu hadats yang hanya bisa diangkat dengan mandi junub,
  2. hadats kecil yaitu yang cukup diangkat dengan berwudhu atau yang biasa dikenal dengan nama ‘pembatal wudhu’.

Najis secara bahasa berarti kotor

Adapun najis secara syar’i maka dia adalah semua perkara yang kotor dari kacamata syariat, karenanya tidak semua hal yang kotor di mata manusia langsung dikatakan najis, karena najis hanyalah yang dianggap kotor oleh syariat. Misalnya tanah atau lumpur itu kotor di mata manusia, akan tetapi dia bukan najis karena tidak dianggap kotor oleh syariat, bahkan tanah merupakan salah satu alat bersuci.

Pembagian najis menurut cara penyuciannya ada 3 (ini hanya ada dalam mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah)
1. Najis mughallazhah (berat) adalah yang butuh dicuci tujuh kali dan salah satunya dicampur tanah, seperti liur anjing (bagi yang berpendapat najisnya)
2. Mukhaffafah (ringan) adalah yang penyuciannya cukup dituangkan sedikit air padanya tapi tidak sampai air yang dituangkan itu menetes. Misalnya kencing bayi laki-laki yang belum mengonsumsi apa-apa selain ASI.
3. Mutawassithah adalah yang penyuciannya dengan cara dicuci tapi tidak sampai 7 kali, dan contohnya adalah najis selain di atas seperti kencing, tai, dll

Najis terbagi menjadi tiga:
1.    Najis maknawiah, misalnya kekafiran. Karenanya Allah berfirman, “Orang-orang musyrik itu adalah najis,” yakni bukan tubuhnya yang najis akan tetapi kekafirannya.
2.    Najis ainiah, yaitu semua benda yang asalnya adalah najis. Misalnya: Kotoran dan kencing manusia dan seterusnya.
3.    Najis hukmiah, yaitu benda yang asalnya suci tapi menjadi najis karena dia terkena najis. Misalnya: Sandal yang terkena kotoran manusia, baju yang terkena haid atau kencing bayi, dan seterusnya.

Dari perbedaan di atas kita bisa melihat bahwa hadats adalah sebuah hukum atau keadaan, sementara najis adalah benda atau zat. Misalnya: Buang air besar adalah hadats dan kotoran yang keluar adalah najis, buang air kecil adalah hadats dan kencingnya adalah najis, keluar darah haid adalah hadats dan darah haidnya adalah najis.

Kemudian yang penting untuk diketahui adalah bahwa tidak ada korelasi antara hadats dan najis, dalam artian tidak semua hadats adalah najis demikian pula sebaliknya tidak semua najis adalah hadats.

Contoh hadats yang bukan najis adalah mani dan kentut. Keluarnya mani adalah hadats yang mengharuskan seseorang mandi akan tetapi dia sendiri bukan najis karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- pernah shalat dengan memakai pakaian yang terkena mani, sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah. Demikian pula buang angin adalan hadats yang mengharuskan wudhu akan tetapi anginnya bukanlah najis, karena seandainya dia najis maka tentunya seseorang harus mengganti pakaiannya setiap kali dia buang angin.

Contoh yang najis tapi bukan hadats adalah bangkai. Dia najis tapi tidak membatalkan wudhu ketika menyentuhnya dan tidak pula membatalkan wudhu ketika memakannya, walaupun tentunya memakannya adalah haram.
Jadi, yang membatalkan thaharah hanyalah hadats dan bukan najis.

Karenanya jika seseorang sudah berwudhu lalu dia buang air maka wudhunya batal, akan tetapi jika setelah dia berwudhu lalu menginjak kencing maka tidak membatalkan wudhunya, dia hanya harus mencucinya lalu pergi shalat tanpa perlu mengulangi wudhu, dan demikian seterusnya.

Kemudian di antara perbedaan antara hadats dan najis adalah bahwa hadats membatalkan shalat sementara najis tidak membatalkannya jika tidak tahu.

Dengan dalil hadits Abu Said Al-Khudri dimana tatkala Nabi -alaihishshalatu wassalam- sedang mengimami shalat, Jibril memberitahu beliau bahwa di bawah sandal beliau adalah najis. Maka beliau segera melepaskan kedua sandalnya -sementara beliau sedang shalat- lalu meneruskan shalatnya. Seandainya najis membatalkan shalat tentunya beliau harus mengulangi dari awal shalat karena rakaat sebelumnya batal. Tapi tatkala beliau melanjutkan shalatnya, itu menunjukkan rakaat sebelumnya tidak batal karena najis yang ada di sandal beliau.

Jadi orang yang shalat dengan membawa najis maka shalatnya tidak batal jika dia tidak tahu sebelumnya dan tidak berdosa kalau tidak tahu atau tidak sengaja.

Kesimpulan:


Dari uraian di atas kita bisa memetik beberapa perbedaan antara hadats dan najis di kalangan fuqaha` yaitu:
1.    Hadats adalah hukum atau keadaan, sementara najis adalah zat atau benda.
2.    Hadats membatalkan wudhu sementara najis tidak.
3.    Hadats membatalkan shalat sementara najis tidak jika awalnya tidak tahu / tidak sengaja.
4.    Hadats diangkat dengan bersuci (wudhu, mandi, tayammum), sementara najis dihilangkan cukup dengan dicuci sampai hilang zatnya.
Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam.

sumber: http://al-atsariyyah.com/