HAKEKAT DAN KEDUDUKAN TAUHID

Syarah Kitabut Tauhid

BAB 1

TAUHID (HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA)

بسم الله الرحمن الحيم

Para ulama memulai kitabnya dengan بسم الله الرحمن الحيم karena:

  1. Mencontoh Al Qur’an. Al Qur’an diawali dengan بسم الله الرحمن الحيم
  2. Mencontoh Nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam. Beliau ketika menulis surat yang ditujukan kepada para pembesar suatu negeri seperti romawi dan persia diawali surat beliau dengan بسم الله الرحمن الحيم

Faedah menulis بسم الله الرحمن الحيم :

  1. Untuk isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah
  2. Untuk mengharap barakah. Barakah adalah bertambahnya kebaikan dan tetapnya kebaikn tersebut

Setelah menulis بسم الله الرحمن الحيم, Syaikh Muhammad At Tamimi memulai kitabnya dengan menulis كتاب اتوحيد (Kitaabu Tauhiid). Mengapa beliau tidak memulai muqadimah (pembukaan) kitab beliau dengan khutbatul hajjah?

  1. Maksud dari muqadimah adalah untuk menjelaskan apa yang akan dibahas dalam kitab (buku) dan judul “kitab tauhid” sudah cukup untuk menjelaskan
  2. Dalam rangka beradab kepada Allah. Tauhid adalah hak Allah. Allah lebih layak untuk menjelaskan tauhid.

Tauhid itu sendiri secara bahasa arab berasal dari kata ( وحّد- يوحّد-توحيدا ) yang artinya menjadikan sesuatu itu menjadi satu.

Tidak mungkin menjadikan sesuatu menjadi satu kecuali terpenuhi dua rukun yaitu nafyu (meniadakan selain sesuatu) dan itsbat (menetapkan sesuatu tersebut).

Misalnya: kita katakan,” Zaid sedang duduk di dalam masjid” maka statemen itu hanya itsbat (menetapkan) saja, yang berarti ada kemungkinan bahwa ada orang lain yang duduk di dalam masjid selain Zaid karena kita tidak menafikan (meniadakan) selain Zaid yang duduk di masjid tersebut.

Sedangkan jika kita katakan, “ Tidak ada yang duduk di dalam masjid kecuali Zaid” maka dalam hal ini sudah terpenuhi dua rukun. Yang pertama kita meniadakan bahwa tidak ada seorang yang duduk dalam masjid dan yang kedua kita menetapan bahwa hanya Zaid yang duduk dalam masjid sehingga dari statemen di atas hanya ada satu kemungkinan yaitu yang duduk di masjid hanya Zaid saja, tidak ada yang lain. Oleh karena itu makna kalimat tauhid لا اله لاالله adalah tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, jadi kita meniadakans egala yang disembah selain Allah dan menetapkan bahwa hanya Allah saja yang berhak diibadahi dengan benar, segala yang disembah selain Allah adalah bathil (salah).

Tauhid secara istilah syari’at bermakna mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan asma wa shifat-Nya.

  1. Tauhid rububiyah (Mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya) adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya. Kita meyakini bahwa hanya Allah saja yang mampu menciptakan alam semesta, mgatur alam semesta, menghidupkan lagi mematikan, memberi rizki kepada para mahluk, yang akan mengadili dengan seadil-adilnya di hari kiamat, dll yang merupakan kekhususan bagi Allah dan hanya Allah yang mampu melakukan hal tersebut.
  2. Tauhid uluhiyah (Mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya) adalah mengesakan Allah dalam ibadah (perbuatan hamba). Ibadah merupakan perbuatan hamba yang hanya boleh ditujukan kepada Allah. Segala ibadah baik doa, sholat, puasa, zakat, haji, nazar, sembelihan, istighosah, takut, harap, tawakal, dll hanya boleh kita tujukan kepada Allah saja, tidak kepada yang lain. Mengenai makna ibadah akan datang penjelasannya nanti.
  3. Tauhid asma wa shifat (Mengesakan Allah dalam nama-nama dan shifat-Nya) adalah menetapkan nama-nama dan sifat Allah sesuai sebagaimana yang ditetapkan Allah dan rasul-Nya sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Manusia dan jin diciptakan dengan suatu tujuan tertentu sebagaimana dalam ayat berikut:

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون[ِ (الذريات:56)

Artinya:

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).

Apa itu ibadah?

Makna ibadah secara bahasa: merendahkan diri dan tunduk patuh

Makna ibadah secara syar’i:

  • Secara umum: merendahkan diri yang perendahan ini didasari kecintaan dan pengagungan yang kita wujudkan dengan melakukan perintah dan menjauhi larangandengan apa-apa yang sesuai dengan syariat.
    Fungsi dari definisi ini adalah: untuk menunjukkan sah tidaknya suatu ibadah
  • Secara khusus: sesuai definisi ibnu taimiyyah yaitu ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir)

Kaedah: Perbuatan apa saja yang merupakan ibadah maka menujukan kepada Allah adalah tauhid dan memalingkan kepada selain Allah adalah syirik akbar

Dalil kaedah ini sangat banyak, diantarnya:

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا

wa’budullaha walaa tusyriku bihi syaiaa

artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. ” (QS. An-Nisaa:36)

Contoh: doa adalah ibadah, maka jika dipalingkan kepada selain Allah maka syirik akbar.

 

Ibadah itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu perkataan dan perbuatan

Ibadah yang merupakan perkataan juga dibagi menjadi dua yaitu ibadah perkataan yang lahir dan yang batin

1. ibadah perkataan yang lahir. contohnya: dzikir, membaca Al Qur’an, berdakwah, dll

2. ibadah perkataan yang batin. contohnya: niat, keyakinan, dll

 

Ibadah yang merupakan perbuatan juga dibagi menjadi dua yaitu ibadah perbuatan yang lahir dan yang batin

1. ibadah perbuatan yang lahir. contohnya: sholat, puasa, zakat, haji, dll

2. ibadah perbuatan yang batin. contohnya: cinta, takut, harap, tawakal, dll

 

Sebagaimana yang telah kita ketahui, kita diciptakan Allah untuk beribadah hanya kepada-Nya dengan cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Tauhid merupakan kunci masuk surga dan hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah karena Allah telah memberikan kita hidayah iman dan islam yang hal ini merupakan nikmat yang sangat besar dan hendaknya kita selalu menjaganya sebgai wujud syukur kita kepada Allah Ta’ala. Ada beberapa alasan mengapa kita harus senantiasa memuji Allah Ta’ala:

  1. Allah satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna, tidak ada aib sedikitpun, Allah sempurna dalam rububiyah, nama-nama dan sifat-Nya.
  2. Begitu banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat terbesar adalah nikmat iman dan cara kita mensyukurinya adalah dengan berusaha agar nikmat Islam dan sunnah tetap ada pada diri kita, tetap istiqomah dalam beragama dan salah satu caranya adalah dengan tetap menuntut ilmu agama.

Dalam masalah akidah (keyakinan) seorang tidak boleh taklid buta melainkan dia harus mengambil keyakinannya bersumber dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih meskipun dia tidak menghafalnya.

Kitab tauhid ini menjelaskan mengenai tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, meninggalkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah dan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya, dan perkara-perkara yang bisa meniadakan tauhid baik  secara keseluruhan maupun sebagian.

Kedudukan tauhid

  1. Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya

(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون (الذريات:56

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).

Ayat ini menunjukkan tauhid: Allah menciptakan manusia dengan satu tujuan yaitu hanya beribadah (mentauhidkan) Allah Ta’ala.

Syaikh alu syaikh menjelaskan bahwa: Dalam ayat ini ada unsur pembatasan, huruf maa (ما) nafi disertai huruf illa (الا) maka hal ini menunjukkan pembatasan maka makna ayat ini adalah Aku telah ciptakan jin dan manusia untuk tujuan yang satu yaitu ibadah bukan tujuan lainnya

Syaikh fauzan menjelaskan bahwa: Ayat ini menjelaskan makna tauhid. Yaitu yang dimaksud tauhid adalah ibadah. Dan bukanlah tauhid yang dituntut Allah hanya sekedar menetapkan Allah dalam rububiyyah. Makna yang diinginkan Allah dalam ayat-ayatnya adalah tauhid ibadah.

Makna tauhid: mengikhlaskan/memurnikah ibadah hanya kepada Allah Ta’ala.

  1. Hikmah diutusnya para Rasul

Para Rasul diutus untuk menjelaskan tauhid.

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت(النحل: من الآية:36

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut([1]).” (QS. An Nahl, 36).

Ibnu abbas berkata: manusia selama 10 qurun waktu hidup di atas tauhid. Pada masa itu Allah tidak mengutus seorang rasul pun,yang ada adalah nabi, baru diutus rasul ketika terjadi pelanggaran tauhid uluhiyyah yaitu zaman nabi Nuh ‘alaihissalam. Tidaklah terjadi penyimpangan dari suatu kaum melainkan akan Allah utus bagi kaum tersebut rasul.

  1. Tauhid adalah hal pertama yang Allah perintahkan dalam kewajiban-kewajiban.

]وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا[

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”(QS. Al Isra’, 23-24).

]قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[

“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 151-153).

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang tertera di atasnya  cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanahu wata’ala : “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.([2])

  1. Tauhid hak Allah atas seorang hamba.

Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu berkata :

كنت رديف النبي  على حمار، فقال لي :” يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : ” لا تبشرهم فيتكلوا “.

“Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku : “ wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena Khawatir mereka nanti bersikap pasrah”([3]) (HR. Bukhari, Muslim).

 

    Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini :

  1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah Ta’ala.
  2. Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.
  3. Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada  Allah Tabaroka wata’ala inilah sebenarnya makna firman Allah :

]ولا أنتم عابدون ما أعب[

“Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun, 3)

  1. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].
  2. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.
  3. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [mengesakan Allah Subhanahu wata’ala saja].
  4. Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut.

Dan inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wata’ala :

]فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى[

“Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah, 256).

  1. Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah.
  2. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, didalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.
  3. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra’ mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah :

]لا تجعل مع الله إلها آخر فتقعد مذموما مخذولا[

“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra’, 22).

Dan diakhiri dengan firmanNya :

]ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى في جهنم ملوما مدحورا[

“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al Isra’, 39).

 

Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya:

]ذلك مما أوحى إليك ربك من الحكمة[

“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra’, 39).

  1. Satu ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’, disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya:

] واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا [

“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’, 36).

  1. Perlu diingat wasiat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di saat akhir hayat beliau.
  2. Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.
  3. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.
  4. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat([4]).
  5. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.
  6. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.
  7. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.
  8. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
  9. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.
  10. Kerendahan hati Rasulullah, sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.
  11. Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.
  12. Keutamaan Muadz bin Jabal..

([1])   Thoghut ialah : setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.

([2])   Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.

([3])  Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.

Iklan

One comment on “HAKEKAT DAN KEDUDUKAN TAUHID

  1. Ping-balik: KEISTIMEWAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA YANG DIAMPUNI KARENANYA | ikhsannurrahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s