Apa Itu Sirah?

 

 

Secara bahasa kata as sirah berasal dari kata sara yasiru sayra, tas-yara, masara dan sara as sunnata atau sara as sirah; salakaha wa ittaba’ah (yakni menempuh dan mengikutinya).
Sirah Nabi termasuk hadits ditinjau dari dua sisi:

1. Karena disandarkan kepada Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam sebagai pembuat syariat
2. Karena diriwayatkan secara bersanad

Berdasarkan alasan kedua, para ulama ahli hadits memisahkannya menjadi satu kitab dengan bab-bab tersendiri, seperti menceritakan maghazi (peperangan) Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam, hari-hari, kepribadian, dan nubuwwah (kenabian) beliau.

Ditinjau dari berbagai peristiwa yang ada di dalamnya, sirah adalah bagian dari tarikh, sebab tarikh secara bahasa berarti upaya mengenalkan waktu.
Dari uraian di atas, kita sebagai umat Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam dituntut untuk melangkah di atas jalan yang telah dilalui oleh beliau semampu kita. Lebih-lebih lagi kita diciptakan oleh Allah Ta’ala semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Nya saja tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Oleh karena itu, tidaklah sempurna ibadah yang kita lakukan kecuali dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam.

Bagaimana mungkin kita akan mengikuti tuntunan beliau jika kita tidak menenal beliau? Bahkan cinta kepada Allah disyaratkan harus adanya ketaatan kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam. Oleh sebab itu tidak mungkin seseorang mentaati beliau sedangkan dia tidak mengenal pribadi beliau. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran:31)
Tidak akan sempurna pula keimanan seorang muslim hingga dia mendahulukan cintanya kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam daripada orang tuanya dan anaknya dan seluruh manusia sebagaimana hadits berikut:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dari Anas berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya”. (HR. Bukhari no.14)

Sebagian ahli ilmu ada yang mendefinisikan sirah sebagai manhaj nabawi, akhlaq Muhamamdi, terkait dengan sifat-sifat beliau, budi pekerti beliau, dan semua keistimewaan yang telah Allah berikan kepada beliau. Termasuk dalam hal ini adalah mukjizat beliau sebagai bentuk pertolongan dan pembelaan Allah terhadap beliau. Begitu pula cara bergaul beliau denagn kaum muslimin, baik sebagai seorang nabi maupun sebagai rasul, dan teladan dalam segala hal, hingga beliau menjadi perumpamaan tertinggi bagi mereka. Oleh karena itu, mempelajari sirah nabawiyah –melalui sumber aslinya- akan membekali hati dan akal dengan pemahaman sejarah yang sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin. Mengapa demikian? Karena sejarah hidup Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam adalah sejarah paling sempurna tentang kehidupan manusia yang dilandasi oleh dalil-dalil Al Quran, sunnah nabawiyyah, dan kenyataan sejarah yang membuatnya sesuai bila diterapkan di semua waktu dan tempat.

Sumber: Majalah Qudwah

Pengantar Penjelasan Kitab Aqidah Wasthiyah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam yang lengkap dan sempurna semoga dilimpahkan kepada Nabi dan Rasul paling mulia, Nabi dan Imam kita, Muhammad bin Abdullah, juga kepada segenap keluarga, shahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti jejak mereka dengan baik, hingga Hari Kiamat. Amma ba’du.

Kitab “Al-Aqidah Al Wasithiyah” tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  رحمه الله تعالى, adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Adapun latar belakang penulisan, dan penamaannya dengan Al Wasithiyah, ialah: Bahwa seorang Qadhi dari negeri Wasith yang sedang melaksanakan haji datang kepada Syaikhul Islam dan memohon beliau untuk menulis tentang Aqidah Salafiyah yang beliau yakini. Maka, beliau رحمه الله menulisnya dalam tempo sekali jalsah, (sekali duduk), seusai shalat ‘Ashar. Ini merupakan bukti nyata bahwa beliau رحمه الله memiliki ilmu yang luas dan dikaruniai oleh Allah kecerdasan dan keluasan ilmu yang mengagumkan. Dan itu tidak aneh, karena karunia Allah itu diberikan dan diharamkan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Agung, kita memohon akan keutamaan dan kemuliaan-Nya.

Kelebihan kitab aqidah wasithiyah:

  1. Kitab ini merupakan bukti keilmuan Ibnu Taimiyyah karena kitab ini ditulis beliau dengan sebab permintaan seorang qadhi (bernama Radhiyuddin) dari kota Wasith (di Irak) setelah terjadi penjajahan dari bangsa Mongol (Tar-Tar). Dari hal ini bisa diambil adab dalam menuntut ilmu yaitu mengambil dari guru yang mutqin dan ahli di bidangnya. Kitab ini ditulis antara asar dan maghrib
  1. Kitab ini berlandaskan Al Qur’an, Sunnah, dan ijma’ para ulama salaf. Ibnu Taimiyyah berkata,“saya berusaha untuk benar-benar mengikuti al quran dan sunnah dalam menulis aqidah wasithiyyah ” (Majmu Fatawa).

    Ibnu Taimiyyah berkata, “setiap lafadz yang aku sebutkan (dalam buku ini) pasti akan aku iringi dengan ayat atau hadits atau aku sebutkan ijma para ulama salaf”. Ini adalah jalan ahlussunnah dalam berdalil. Ahlussunnah melihat dalil baru menetapkan aqidah sedangkan ahlul bida dan ahwa menetapkan aqidah dulu baru mencari-cari dalilnya. (Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani)

  1. Aqidah wasithiyyah adalah hasil penelitian Ibnu Taimiyyah terhadap perkataan-perkataan ulama salaf tentang asma(nama-nama) & shifat Allah, yaumil akhir, qadar, sahabat, dan lainnya yang merupakan pokok aqidah ahlussunnah.
    Ibnu Taimiyyah, “Tidaklah aku kumpulkan dalam aqidah wasithiyyah kecuali perkataan para salaf semuanya”
  1. Beliau (Ibnu Taimiyyah) mengakui bahwa kitab ini benar-benar beliau teliti. Beliau berkata, “saya beri kesempatan terhadap orang yang menyelisihi kitab aqidah wasithiyyah selama tiga tahun. Apabila orang yang menyelisihi mendatangkan sebuah kata yang ternyata bersumber dari 3 generasi awal yang dipuji nabi dan kalimat itu menyelisihi apa yang aku tulis maka aku akan mengalah dan aku ambil perkataan dia”.
  1. Aqidah wasitiyyah ini ringkas akan tetapi mengandung sekian banyak permasalahan-permasalahan iqtiqod dan juga mengandung pokok-pokok iman. Bagaimana akhlak seorang ahlussunnah wal jamaah

Penulis sebagian besar mengambil faedah dari Kajian Aqidah Wasithiyah bersama Ustadz Zaid Susanto, Lc