Faidah Hadits Ketiga Arba’in Nawawiyah

HADITS KETIGA

 

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.        رواه الترمذي ومسلم

 

 

Kosa kata / مفردات :

سمعتُ  : (saya) mendengar بُنِيَ- بَنَى  : Dibangun

 

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Alh- Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan berpuasa Ramadhan.  (Riwayat Turmuzi dan Muslim)

Kedudukan Hadits

Hadits ini merupakan hadits yang agung karena menyebutkan tonggak-tonggak Islam atau yang disebut dengan Rukun Islam. Berpangkal dari kelima rukun tersebut Islam dibangun.

 

Faidah Hadits Ketiga Arba’in Nawawi

Macam-macam penggunaan istilah Islam

 

Istilah islam digunakan dalam dua bentuk, yaitu:

 

  1. Islam ‘Am (secara umum) berarti berserah diri kepada Allah dengan cara bertauhid, tunduk kepada-Nya dalam bentuk ketaatan serta bersih dan benci dari syirik dan penganutnya. Islam dalam pengertian ini merupakan ke-Islam-an makhluk secara umum tak seorangpun keluar dari ketentuan ini baik suka atau-pun terpaksa. Islam seperti ini-lah Islam yang diajarkan oleh seluruh rasul.

 

  1. Islam Khos (secara khusus) berarti Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallaahu álaihi wa sallam, yaitu: mencakup Islam dengan makna ‘am yang sesuai dengan tuntunan Muhammad shallallaahu álaihi wa sallam. Jika istilah Islam datang secara mutlaq maka maksudnya adalah Islam khos.

 

1. Syahadatain

 

Syahadat berasal dari kata -Syahada yusyahidu – yang berarti menyaksikan langsung

 

Syahadat “Laailaaha illallah” mencakup dua hal:

  1. Pengakuan lisan. Jadi harus diucapkan
  2. Pengakuan dalam hati
  3. Menjalankan konsekuensi dari kalimat “Laa ilaaha ilallah”

 

Pada kenyataannya, di dunia ini ada banyak hal yang dijadikan sesembahan, jadi makna “laa ilaaha ilallah” yang benar adalah tidak ada sesembahan yang haq (benar) kecuali Allah

 

Syahadat tidaklah sah sehingga terkumpul padanya tiga hal: keyakinan hati, ucapan lisan dan menyampaikan kepada orang lain.

 

Makna syahadat “laa ilaha illallahu” adalah meniadakan hak disembah pada selain Allah dan menetapkan hanya Allah-lah yang berhak untuk disembah. Konsekuensinya yakni harus mentauhidkan Allah dalam semua ibadah, oleh karena itu kalimat tersebut dinamakan sebagai kalimat tauhid.

 

Makna syahadat “Muhammad Rasulullah” adalah meyakini dan menyatakan bahwa Muhammad bin Abdillah adalah benar-benar utusan Allah yang mendapatkan wahyu berupa Kalamullah untuk disampaikan kepada manusia seluruhnya. Dan dia adalah penutup para Rasul. Konsekuensi dari syahadat ini yaitu membenarkan beritanya, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah kepada Allah hanya dengan syar’iatnya .

 

Utusan Allah dari kalangan manusia mendapatkan wahyu melalui utusan Allah dari kalangan malaikat maka tidak-lah mereka langsung mendapatkan dari Allah kecuali pada sebagian, sesuai dengan kehendak Allah.

 

Beberapa poin mengenai hal ini:

  1. Allah menjadikan nabi sebagai perantara dalam penyampaian wahyu, jadi tidak ada ilmu laduni [1]
  2. Setiap orang wajib taat dan mengikuti pada perintah dan larangan Nabi  karena setiap sabda nabi adalah wahyu dari Allah
  3. Setiap berita yang datang dari Nabi adalah benar dan jujur yang itu disampaikan lewat wahyu
  4. Setiap orang yang mau beribadah harus melalui ajaran Nabi

 

 

2. Sholat

Sholat yang dimaksud di sini adalah sholat 5 waktu sehari semalam

 

Apa yang dimaksud mendirikan sholat?

 

Hendaknya ketika sholat memenuhi syarat, rukun, dan kewajiban-kewajiban dalam sholat dan semakin disempurnakan lagi dengan melakukan Sunnah sholat

 

 

3. Zakat

Zakat secara Bahasa artinya tumbuh dan bertambah. Jika dia berzakat maka hartanya akan bertambah dan semakin berkah meskipun secara fisik jumlahnya berkurang

 

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Berkata Imam Nawawi rahimahullah:

 

  1. Sedekah tidaklah mengurangi harta. Maksudnya jumlah hartanya berkurang tetapi ditutupi dengan keberkahan, jadi meskipun hartanya sedikit tetapi berkah.
  2. Kekurangan tadi ditutup dengan pahala

 

Adapun zakat secara istilah adalah mengeluarkan persenan tertentu dari harta dari harta-harta tertentu dan disalurkan untuk 8 golongan

 

4. Haji

Haji dalam lafadz hadits ini didahulukan dari puasa.

Penjelasan ulama: karena nabi ingin mengurutkan, sholat ibadah dengan anggota badan, zakat dengan harta, haji dengan anggota badan dan harta, baru kemudian disebutkan puasa

 

Haji secara Bahasa menuju sesuatu. Yang dituju yaitu baitullah

 

 

5. Puasa

Puasa di bulan Ramadhan.

 

Penentuan awal dan akhir tahun tidak ditetapkan oleh nabi, beberapa masa setelahnya setelah masa nabi baru ada ijtihad tentang awal bulan

 

Puasa secara istilah yaitu menahan diri dari pembatal puasa dari terbit fajar suubh sampai terbenam matahari

 

Dari 5 rukun Islam yang ada, 3 rukun dilakukan dengan memperhatikan bulan yakni puasa, zakat, dan haji

 

Hukum meninggalkan rukun Islam

 

Rukun artinya tiang-tiang pokok. Jika rukun tidak ada maka islam tidak ada

 

Hukum meninggalkan Rukun Islam dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Meninggalkan syahadatain hukumnya kafir secara ijma’.
  2. Meninggalkan shalat hukumnya kafir menurut sebagian ulama atau ijma’ sahabat.

 

Salaf: meninggalkan sholat itu kafir dan hal itu tidak diperselisihkan para ulama

 

Sahabat nabi tidak pernah memandang perkara yang bisa membuat kafir jika ditinggalkan kecuali sholat. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya meninggalkan sholat adalah fasiq. Pendapat dalam mazhab Hambali: meninggalkan sholat hukumnya kafir.

Dalil yang dipakai sebagian ulama mengenai kafirnya yang meninggalkan sholat:

 

iblis yang tidak mau sujud saja kafir maka apalagi yang meninggalkan sholat

 

Dari 5 rukun islam tadi jihad tidak dimasukkan dari rukun islam

Ibnu rajab  menjelaskan bahwa dalam hal ini ada beberapa alasan:

  1. jihad menurut jumhur hukumnya fardhu kifayah bukan fardhu ‘ain berbeda dengan rukun islam yang kita bahas. Sholat, puasa, zakat, haji semua harus dilakukan jika mampu.
  2. jihad tidak berlaku sepanjang waktu. Syahadat dan sholat harus ada setiap waktu

 

Meninggalkan rukun yang lainnya (selain syahadat dan shalat) hukumnya tidak kafir menurut jumhur ulama.

 

Meninggalkan disini dalam arti tidak mengerjakan dengan meyakini kebenarannya dan kewajibannya, adapun jika tidak meyakini kebenarannya dan kewajibannya maka hukumnya kafir walaupun mengerjakannnya.

 

Setiap rukun islam yang ditinggalkan semua ulama sepakat hal ini dosa besar

 

Pembagian Rukun Islam

 

Rukun islam terbagi menjadi empat kelompok yaitu:

  1. Amal i’tiqodiyah yaitu syahadataian
  2. Amal badaniyah yaitu solat dan puasa.
  3. Amal maliyah yaitu Zakat.
  4. Amal badaniyah dan maliyah yaitu haji.
Iklan

Faidah Kedua Hadits Arba’in Nawawi

 

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .   [رواه مسلم]

Kosa kata /مفردات :

طلع                 : Terbit / datang

 العراة (العاري)     : telanjang

أسند                : Menyandarkan

 رعاء (راعي)      : Penggembala

كفَّيه (كف)        : Kedua telapak 

                       Tangan

يتطاولون        : saling meninggikan

فخذيه (فخذ)       : Kedua pahanya

 انظلق         : Berangkat / Bertolak 

ركبتيه (ركبة)       : Kedua lututnya

أثر                  : Bekas

الحُفاة (الحافي)       : telanjang kaki

 أمارات (أمارة)    : tanda-tanda

 

Arti hadits / ترجمة الحديث :

 

Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya (Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam), kemudian berkata: ”Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang benar disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke baitullah jika engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: ”Lalu jelaskanlah kepadaku tentang iman”. (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir  yang baik dan yang buruk.”Orang tadi berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu jelaskanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak wanita melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.” Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”(HR. Muslim).

 

Kedudukan Hadits

  1. Materi hadits ke-2 ini sangat penting sehingga sebagian ulama menyebutnya sebagai “Induk sunnah”, karena seluruh sunnah berpulang kepada hadits ini.
  2. Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan .
  3. Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam)

 

Islam, Iman, dan Ihsan

Dienul Islam mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Islam berbicara masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan mencakup keduanya.
Ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Islam. Tidaklah ke-Islam-an dianggap sah kecuali jika terdapat padanya iman, karena konsekuensi dari syahadat mencakup lahir dan batin. Demikian juga iman tidak sah kecuali ada Islam (dalam batas yang minimal), karena iman adalah meliputi lahir dan batin.

Perhatian!
Para penuntut ilmu semestinya paham bahwa adakalanya bagian dari sebuah istilah agama adalah istilah itu sendiri, seperti contoh di atas.

Islam

Syahadatain

Syahadatain (dua kalimat syahadat) secara syar’i memiliki dua makna:

  1. Meyakini dalam hati (I’tiqod)
  2. Mengkabarkan ke orang lain (ikhbar)

Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salihin menjelaskan bahwa tingkatan syahadat ada empat:

  1. Mengilmuinya (ilmu & I’tiqod)
  2. Mengucapkan dengan lisan, meskipun dengan diri kita
  3. Mengabarkan kepada orang lain tentang apa yang kita yakini
  4. Melaksanakan konsekuensi dari syahadat

Para ulama telah bersepakat (ijma) bahwasanya jika ada orang yang menyembunyikan persaksian syahadat maka ia kafir jika tanpa udzur.

Dalam konteks rukun Islam, yang tidak boleh hilang adalah syahdatain dan shalat. Adapun jika tidak mampu zakat karena miskin atau tidak bisa berhaji karena tidak mampu maka masih disebut muslim. Jika ada orang yang mampu berpuasa, membayar zakat, dan berhaji  namun tidak menunaikannya dengan tidak mengingkari kewajiban rukun islam tersebut maka dia masih muslim meski telah melakukan dosa besar

 

Iman Bertambah dan Berkurang

Nabi menjelaskan iman dengan amalan-amalan hati, meskipun begitu iman tidak cukup hanya dengan keyakinan saja, harus dibuktikan dengan perbuatan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Keimanan tidak sah jika salah satu rukun iman atau lebih hilang.

Ahlussunnah menetapkan kaidah bahwa jika istilah Islam dan Iman disebutkan secara bersamaan, maka masing-masing memiliki pengertian sendiri-sendiri, namun jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup yang lainnya. Iman dikatakan dapat bertambah dan berkurang. Hal ini disebabkan karena adanya tujuan untuk membedakan antara Ahlussunnah dengan Murjiáh. Murjiáh mengakui bahwa Islam (amalan lahir) bisa bertambah dan berkurang, namun mereka tidak mengakui bisa bertambah dan berkurangnya iman (amalan batin). Sementara Ahlussunnah meyakini bahwa keduanya bisa bertambah dan berkurang.

Iman akan bertambah dengan bertambahnya ketaatan dan akan berkurang dengan kemaksiatan. Iman tidak hanya keyakinan hati, namun juga terdapat amalan di dalamnya.

 

Istilah Rukun Islam dan Rukun Iman

Istilah “Rukun” pada dasarnya merupakan hasil ijtihad para ulama untuk memudahkan memahami dien. Rukun berarti bagian sesuatu yang menjadi syarat terjadinya sesuatu tersebut, jika rukun tidak ada maka sesuatu tersebut tidak terjadi.Istilah rukun seperti ini bisa diterapkan untuk Rukun Iman, artinya jika salah satu dari Rukun Iman tidak ada, maka imanpun tidak ada. Adapun pada Rukun Islam maka istilah rukun ini tidak berlaku secara mutlak, artinya meskipun salah satu Rukun Islam tidak ada, masih memungkinkan Islam masih tetap ada.

Demikianlah semestinya kita memahami dien ini dengan istilah-istilah yang dibuat oleh para ulama, namun istilah-istilah tersebut tidak boleh dijadikan sebagai hakim karena tetap harus merujuk kepada ketentuan syariat agama, sehingga jika ada ketidaksesuaian antara istilah buatan ulama dengan ketentuan syariat maka ketentuan syariat lah yang dimenangkan.

 

Batasan Minimal Sahnya Keimanan

  1. Iman kepada Allah.

Iman kepada Allah sah jika beriman kepada Rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan asma’ dan sifat-Nya.

  1. Iman kepada Malaikat.

Iman kepada Malaikat sah jika beriman bahwa Allah menciptakan makhluk bernama malaikat sebagai hamba yang senantiasa taat dan diantara mereka ada yang diperintah dengan tugas-tugas tertentu seperti adanya malaikat yang ditugaskan untuk mengantar wahyu.

  1. Iman kepada Kitab-kitab.

Iman kepada kitab-kitab sah jika beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab yang merupakan kalam-Nya kepada sebagian hambanya yang berkedudukan sebagai rasul. Diantara kitab Allah adalah Al-Qurán.

  1. Iman kepada Para Rasul.

Iman kepada para rasul sah jika beriman bahwa Allah mengutus kepada manusia sebagian hambanya yang mana para utusan Allah mereka mendapatkan wahyu untuk disampaikan kepada manusia, dan pengutusan rasul telah ditutup dengan diutusnya Muhammad shallallaahu álaihi wa sallam.

  1. Iman kepada Hari Akhir.

Iman kepada Hari Akhir sah jika beriman bahwa Allah membuat sebuah masa sebagai tempat untuk menghisab manusia, mereka dibangkitkan dari kubur dan dikembalikan kepada-Nya untuk mendapatkan balasan kebaikan atas kebaikannya dan balasan kejelekan atas kejelekannya, yang baik (mukmin) masuk surga dan yang buruk (kafir) masuk neraka. Ini terjadi di hari akhir tersebut.

  1. Iman kepada Takdir.

Iman kepada takdir sah jika beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi, sedang terjadi, dan sudah terjadi. Allah telah mengilmui segala sesuatu sebelum terjadinya kemudian Dia menentukan dengan kehendaknya semua yang akan terjadi setelah itu, Allah menciptakan segala sesuatu yang telah ditentukan sebelumnya.

Demikianlah syarat keimanan yang sah, sehingga dengan itu semua seorang berhak untuk dikatakan mukmin. Adapun selebihnya maka tingkat keimanan seseorang berbeda-beda sesuai dengan banyak dan sedikitnya kewajiban yang dia tunaikan terkait dengan hatinya, lisannya, dan anggota badannya.

Allah Ta’ala menulis segala sesuatu yang akan terjadi 50 ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Allah Ta’ala memiliki kehendak, apa yang Allah kehendaki terjadi pasti terjadi dan yang tidak Allah kehendaki untuk terjadi tidak mungkin terjadi. Allah menciptakan makhluk dan semua perbuatan makhluk.

Takdir Buruk

Buruknya taqdir ditinjau dari sisi makhluk. Adapun ditinjau dari pencipta takdir yakni Allah Ta’ala, maka semuanya baik. Semua perbuatan Allah adalah baik dan sempurna.

Penyimpangan Syiah Berkaitan dengan Iman

Syi’ah rafidhah mempunyai aqidah (keyakinan) yang disebut aqidah al bada’ yakni mereka meyakini bahwa imam-imam mereka mengetahui hal yang ghaib sehingga imam-imam mereka mengetahui masa depan dan mereka meyakini bahwa imam-imam mereka adalah maksum (terjaga dari dosa). Aqidah al bada’ ini adalah aqidah yang agung menurut syiah.

Berdasarkan aqidah al bada’, Allah baru mengetahui kejadian ketika kejadian itu terjadi. Konsekuensi dari aqidah ini, jika apa yang dikabarkan imam mereka tentang masa depan bertolak belakang dengan takdir Allah maka mereka beranggapan yang salah bukan imam mereka, tetapi Allah lah yang salah atau Allah salah ketika mengabarkan wahyu kepada imam mereka. Aqidah al bada’ ini adalah aqidah yang batil dan aqidah ini ada di dalam kitab taurat palsu yang ada di Yahudi.

Bantahan ahlussunnah kepada syiah berkaitan dengan aqidah ini adalah bahwasanya naskh dan mansukh terjadi pada hukum bukan terjadi pada berita, jika terjadi pada berita maka konsekuensinya adalah bohong dan Allah tidak mungkin berbohong, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sangkakan.

 

Makna Ihsan

Sebuah amal dikatakan ihsan cukup jika diniati ikhlas karena Allah, adapun selebihnya adalah kesempurnaan ihsan.

Level mimal suatu amal dikatakan ihsan adalah ikhlas dan mutaba’ah (sesuai ajaran Nabi)

Kesempurnaan ihsan meliputi 2 keadaan:

  1. Maqom Musyahadah

Makna ini diambil dari teks hadits “Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya”. Melihat disini bukan berarti melihat zat Allah, sebagian sufi mengatakan bahwasanya jika sudah mencapai level tertinggi maka kita bisa melihat zat Allah secara langung dan berinteraksi dengan-Nya, pemahaman sufi ini adalah pemahaman yang salah. Yang dimaksud melihat disini adalah senantiasa memperhatikan pengaruh sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut. Semakin dia mendalami dan mengetahui nama dan sifat Allah maka ia akan menyadari bahwa segala hal yang terjadi adalah kekuasaan Allah, jika ia berbuat dosa maka ia akan segera bertaubat karena ia mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Menerima Taubat.

 

  1. Maqom Muraqobah yaitu senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktifitasnya, kedudukan yang lebih tinggi lagi. Maqam muraqabah ini lebih rendah dari maqam musyahadah.

Makna ini diambil dari teks hadits “Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau”

 Ketika beribadah kepada Allah, dia selalu merasa diawasi oleh Allah, selalu diliputi ilmu Allah sehingga ia khusyu’ dalam beribadah kepada-Nya

Hari Akhir

Pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kiamat adalah rahasia Allah, hanya Allah yang mengetahuinya bahkan malaikat Jibril dan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam yang merupakan makhluk yang dekat dengan Allah pun tidak mengetahui. Jika ada berita yang mengatakan kiamat akan terjadi pada tanggal sekian tahuns ekian maka bisa dipastikan kaabr itu adalah dusta, hanya bualan belaka, jika makhluk yang mulia seperti malaikat Jibril dan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam saja tidak mengetahui, apalagi orang yang tingkatannya jauh di bawah mereka.

Yang terpenting bagi kita bukanlah kapan kiamat akan terjadi, yang terpenting adalah apa persiapan kita untuk menghadapi hari kiamat.

Tanda-tanda kiamat ada dua yakni tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiaamt kecil.

Tanda-tanda kiamat kecil yakni sebelum munculnya Al Masih Ad Dajjal. Tanda kiamat kecil yang disebutkan dalam hadits ini adalah ”Apabila budak wanita melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.”

Apabila budak perempuan yang melahirkan tuannya yakni qiyas tentang kedurhakaan menjelang hari kiamat sehingga ada anak yang memperlakukan ibunya sebagai budak, menjelang hari kiamat banyak hal yang terbalik, seolah-olah ibu menjadi budak dan anak tersebut yang menjadi tuannya.

 

 

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

  1. Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.
  2. Dzahir hadits menunjukkan hal ini (baju putih) adalah hal yang dianjurkan & ini bisa kita usahakan
  3. Adapun rambut hitam tidak bisa kita usahakan & ada larangan menyemir rambut dengan warna hitam

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“غَيِّرُوا هَذَا الشَّيْبَ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ  (رواه مسلم)

“Rubahlah warna uban itu, dan jauhi warna hitam.” (HR. Muslim, no. 2102)

  1. Mengenai dhamir (kata ganti) pada kata فَخِذَيْهِ (kedua pahanya) terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama:
  • Kedua pahanya, kata “nya” kembali kepada Jibril ‘alaihissalam
  • Kedua pahanya, kata “nya” kembali kepada Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dan ini yang lebih kuat

Jadi pada hadits di atas Jibril meletakkan kedua tangannya pada paha Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam

 

  1. Dalam hadits ini dicontohkan adab yang baik dalam berguru (menuntut ilmu) yakni dengan mendekat kepada guru yang hikmahnya dia tidak perlu berteriak-teriak ketika hendak bertanya kepada guru & guru juga tidak perlu berteriak-teriak ketika menjelaskan kepada para muridnya.
  2. Jika Surat Al Fatihah disebut Ummul Qur’an (Induknya Al Qur’an) maka hadits Jibril ini disebut Ummu Sunnah (Induknya As Sunnah). Imam Al Baghawi dalam Al Mashabih & Syarhussunnah mengawali kitabnya dengan hadits ini karena hadits ini adalah ummu sunnah yang menjelaskan inti ajaran islam. Di dalamnya terdapat terdapat pokok-pokok akidah (rukun iman), mencakup syariat yang dzahir (rukun Islam), & di dalamnya terdapat keimanan terhadap yang ghaib (hari kiamat), dan juga terdapat adab dalam majlis ilmu.
  3. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam adalah seorang pemimpin yang paling mulia namun beliau tetap berbaur dengan para sahabat dengan tidak memposisikan diri sebagai orang yang mulia yang membutuhkan tempat atau singgasana khusus.
  4. Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.
  5. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.
  6. Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.
  7. Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.
  8. Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.
  9. Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
  10. Konsekuensi dari pernyataan (…malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian) adalah bahwa yang terdapat dalam hadits sudah mencakup inti ajaran Islam.

 

Sumber: Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi – Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh – http://muslim.or.id yang disusun oleh Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam (Staf Pengajar Ma’had Ihyaus Sunnah, Tasikmalaya)

Larangan Membuka Aib Diri Sendiri (Mujaharoh)

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, katanya: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. bersabda: “Setiap umatku itu dimaafkan, kecuali orang-orang yang mujahir (suka menampak-nampakkan kejahatan/maksiatnya sendiri dengan rasa bangga, atau melakukan maksiat di depan umum, tahu jika salah tetapi dia terus melakukan maksiat tersebut). Sesungguhnya (termasuk) mujahir ialah jikalau seorang melakukan sesuatu perbuatan -dosa- di waktu malam, kemudian di pagi hari, sedangkan Allah telah menutupi keburukannya itu, tiba-tiba ia berkata -pada pagi harinya itu-: “Hai Fulan, saya tadi malam melakukan demikian, demikian.” Orang itu semalaman telah ditutupi oleh Allah celanya, tetapi pagi-pagi ia membuka tutup Allah yang diberikan kepadanya itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Mujaharoh ada dua:

  1. Langsung melakukan maksiat di depan umum. Dia telah menyebabkan kecelakaan bagi dirinya (mendzalimi diri sendiri) dan bagi orang lain (ketika maksiat di depan orang lain dia memancing orang lain melakukan maksiat yang semisal atau menjadikan orang lain menganggap enteng maksiat tersebut).

Kesalehan seseorang adalah bagaimana ia mengamalkan ilmu yang ia pelajari. Orang yang beramal karna tidak ikhlas maka ia akan dilempar ke neraka wal’iyadzubillah. “siapa mencari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap ridha Allah (namun ia malah niatkan untuk mendapat kedudukan di kalangan manusia) maka ia akan dicampakkan ke neraka”

  1. Orang itu melakukan kemaksiatan sembunyi-sembunyi tapi kemudian ia sebarkan meskipun hanya ke teman dekatnya, tidak di depan umum.

Semoga Allah menggolongkan kita termasuk orang yang mendapat ampunan dan menjauhkan kita dari menjadi orang yang mujahhir. Aamiin

Faedah hadits:

  1. Mujaharoh (pamer dosa) adalah dosa tersendiri selain dosa yang dilakukan karna mujaharoh sesungguhnya adalah menyepelekan keagungan Allah, bagaimana tidak, Allah sudah tutupi maksiat yang ia lakukan tetapi ia justru menampakkannya dan mujaharoh itu mengandung unsur keras kepala .

Setiap dosa di bawah kesyirikan di bawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak akan Allah ampuni dan jika Allah berkehendak akan Allah adzab.

  1. Mujaharoh adalah termasuk menyebarkan faahisyah di kalangan kaum muslimin.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang suka jikalau keburukan (faahisyah) itu merata -tersebar- di kalangan orang-orang yang beriman, maka orang-orang yang bersikap demikian itu akan memperoleh siksa yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat.”

Malu adalah bagian dari iman. Malu bermaksiat bukan munafik tapi itu adalah iman. Sebagian orang di zaman ini mengatakan malu bermaksiat dengan munafik, istilah ini bertolak belakang 180o

  1. Orang yang ditutup aibnya oleh Allah di dunia maka Allah juga akan menutupi aibnya di akherat dan tidak akan mempermalukan dia. Jika kita pernah maksiat maka rahasiakanlah, jangan diceritakan apalagi dengan bangga, tugas kita adalah bertaubat. Jika kita menceritakan maksiat untuk mengambil ibroh tidak termasuk mujaharoh jika tidak mengurangi kehormatannya. Adapun jika pernah berzina hendaknya dirahasiakan karna hal tersebut sangat pribadi dan bisa mengurangi kehormatan
  2. Dalam mujaharoh mengandung 5 kejahatan:
    1. Dosa yang dia pamerkan adalah kejahatan
    2. Dia menyebut-nyebut dosa tersebut setelah dia laksanakan atau dia laksanakan di depan manusia meskipun dengan satu orang, na’udzubillahi min dzalik. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita
    3. Menyingkap tabir yang telah ditutupkan Allah kepadanya.
    4. Menggerakkan / memancing / membangkitkan keinginan hasrat untuk berbuat buruk. Dia memancing orang yang mendengar maksiat yang ia ceritakan atau menyaksikan maksiat yang ia ceritakan untuk melakukan maksiat yang sama dengan yang ia lakukan.

“Siapa yang menunjukkan kepada satu kejahatan maka dia kan mendapatkan keburukan dari dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat…”

Dia menyebabkan keburukan menimpa dirinya dan menyebabkan keburukan menimpa orang lain
5. Mempersiapkan sebab dan jalan untuk maksiat. Orang yang menjadi sebab kebaikan maka dia dapat pahala, begitu juga dalam keburukan.

“siapa yang mempersiapkan (kebutuhan) bagi seorang pejuang maka dia pejuang”

Menutup Aib Orang Lain Di Dunia, Allah Akan Tutupi Aib Kita Di Hari Kiamat

 

Dari Abu Hurairah radhiyallhu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tiada seorang hambapun yang menutupi cela/aib seorang hamba yang lainnya di dunia, melainkan ia akan ditutupi cela/aibnya oleh Allah pada hari kiamat.” (Riwayat Muslim)

Keterangan:

Orang-orang yang dihinakan akan diadili di depan semua orang.

Menutup aib ada dua kemungkinan: yang terpuji dan yang tercela

Al jazaau min jinsil amal : orang yg menutup aib saudaranya maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat. Balasan yang kita terima dari Allah jauh lebih bayak dari amalan yang kita lakukan di muka bumi

“Barangsiapa yang membebaskan kesulitan-kesulitan dari saudaranya di dunia maka Allah akan bebaskan membebaskannya dari kesulitan di hari kiamat”

Balasan Allah jauh lebih besar dari apa yang kita amalkan, kalau bukan karna rahmat Allah niscaya kita tidak bisa masuk surga.

“tidak ada seorang pun yang masuk surga karna amalnya. Sahabat: sampai engaku ya rasulullah. Nabi: ya, saya juga. Hanya saja Allah sudah merahmatiku sehingga aku bisa masuk surga”

Syaikh Utsaimin: menutup aib ada dua macam:

  1. Menutup yang terpuji

Apabila yang melakukan kesalahan seorang yang shalih yang biasanya tidak melakukan kesalahan. Mungkin dia tidak sengaja, ketika itu sedang terdorong hawa nafsu, mayoritas hidupnya dipenuhi ketaatan, maka lebih utama menutupinya dan ini tidak berarti tidak menasehatinya.

  1. Menutup yang kurang terpuji bahkan tercela

Menutupi aib orang yang menggampangkan maksiat, dia sering melakukan kesalahan dan menyepelekan kesalahan dia.

 

Ketika akan menutup aib saudara kita kita harus mempertimbangkan mashlahat dan madharat, jika maslahat menutupi lebih besar maka kita tutupi tapi jika mashlahat menyebarkannya lebih besar maka tidak kita tutupi dan jika antara mashlahat dan madharat sama maka yang lebih baik menutupinya. Wallahu a’lam

 

Faedah hadits

  1. Siapa yang menutup aib hamba di dunia maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Barangkali dosanya akan diampuni oleh Allah bisa dengan Allah tidak menanyakan dosanya atau kalaupun ditanyakan Allah tidak akan mempermalukan dia di depan seorang mahluk. “wahai hambaKu, karna engkau telah menutupi dosa saudaaramu / engkau telah bertaubat setelah maksiat di dunia maka Aku pada hari ini akan menutupi aibmu”
  2. Balasan sesuai dengan jenis amal yang ia kerjakan. Orang yang membebaskan budak maka akan Allah bebaskan dari api neraka. Orang yang syahid di dunia maka di akherat akan dibangkitkan dalam darahnya berbau misk. Orang yang menahan makan dan minum karna Allah maka allah akan jauhkan dia dari api neraka 70 musim.
  3. Siapa yang melihat kesalahan dari saudaranya maka dia seyogyanya untuk menutupi kesalahan tersebut. Syaikh Rabi sebelum menerbitkan buku untuk menasehati seorang dai di saudi beliau terus menasehati dai tersebut. Ketika si dai terus menerus dalam kesalahan baru beliau keluarkan buku mengenai dai tersebut.

“kalau keduanya ingin kedamaian maka Alah akan beri taufiq/kemudahan”

Dinasehati dan ditutupi, tidak dinasehati di depan umum karna hal ini termasuk menjelek-jelekan.

  1. Seorang muslim adalah cerminan dari saudaranya. Muslim itu adalah bagian dari dia sendiri, kalau temannya jelek maka dia akan jelek, kalau dia menjelek-jelekan temannya maka ia akan jelek. “muslim dengan muslim lainnya seperti satu tubuh”.
  2. Allah ta’ala Maha Pemalu dan memiliki sifat menutupi. Allah ta’ala mencintai rasa malu dan ditutupnya aib. “iman itu ada 60 sekian cabang atau 70 sekian cabang, yang paling tinggi adalah laa ilaaha ilallah yang paling rendah menyingkirkan duri dari jalan dan malu sebagian dari iman”.
    “rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan”.
    “jika kamu tidak malu lakukan semaumu”.
    Malu yang sesungguhnya adalah menjaga kepala yang ada di dalamnya dan menjaga perut dan apa yang ada di dalamnya.

Ada orang yang menjalankan syariat malu misalnya malu berjilbab maka ini bukan malu yang syar’i (al hayaa) tapi namanya tapi al khojal

Menutupi Aurat (Aib) Kaum Muslimin Dan Melarang Untuk Menyiar-nyiarkannya Tanpa Adanya Kepentingan Darurat

 

Larangan Menyukai Tersebarnya Berita Fahisyah (Keburukan)

Yang disebut aurat kaum muslimin maksudnya terbagi menjadi dua, ada yang bersifat konkret dan abstrak.

  • Aurat yang konkret: anggota tubuh yang tidak boleh kita pandang.

Aurat laki-laki:

  • Sebagian ulama: antara pusat sampai lutut. Namun yang lebih kuat paha bukan aurat tetapi lebih utama tidak dibuka di hadapan manusia.

Aurat wanita:

  • Sebagian ulama: aurat wanita adalah seluruh tubuh. Sebagian ulama yang lain: aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Kebanyakan kaum pria menutupi aurat lebih rapat dari kaum wanita, banyak diantara wanita yang tidak menutupi kaki bagian bawahnya dan keebanyakan kaum pria memakai kemeja dengan lengan panjang sedangkan wanita hanya memakai lengan pendek atau bahkan yang lebih parah hanya memakai tank top.

  • Aurat maknawi/abstrak: aib, perbuatan buruk, baik aib yang sifatnya akhlak ataupun amal/perbuatan.

Setiap bani adam pasti melakukan kesalahan, sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertaubat.

Ada dua macam kesalahan manusia: dengan sengaja atau tidak sengaja

Apabila dengan sengaja ini dinamakan dzalim. Jika tidak sengaja (karna tidak tahu) ini dinamakan jahil (bodoh).

“Sesunggunya manusia itu banyak berlaku dzalim dan banyak berlaku jahul”

Manusia tidak lepas dari tiga kondisi:

  1. Mendapat nikmat dan dia wajib bersyukur
  2. Mendapat musibah dan dia wajib bersabar
  3. Melakukan dosa dan dia wajib berisitghfar (bertaubat)

Mudah-mudahan kita termasuk ketiga golongan di atas. Karna tiga perkara itu adalah tanda kebahagiaan seseorang.

Yang harus kita camkan, kewaijban kita adalah menutupi kesalahan saudara kita, jangan menyebarkannya, sebagaimana kita ingin kesalahan kita ditutupi dan tidak disebar.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu pelayan Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai bagi saudaranya (sesama muslim) segala sesuatu yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Jika saudara kita membohongi kita dalam jual beli sekali atau dua kali maka jangan disebarkan dulu, kita nasehati dia dan jika dia tidak berubah dan bermuamalah dengan orang lain dengan kecurangan maka tidak ada salahnya kita umumkan aibnya.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang suka jikalau keburukan(faahisyah) itu merata -tersebar- di kalangan orang-orang yang beriman, maka orang-orang yang bersikap demikian itu akan memperoleh siksa yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat.” (QS. An-Nur:19)

Allah ta’ala menerangkan bahwa orang-orang yang menyukai tersebarnya berita keji di kalangan kaum muslimin maka dia akan diancam azab yang pedih di dunia dan akhirat. Ini baru menyukai maka bagaimana dengan orang yang benar-benar menyebarkan? Na’uzubillahi mindzalik

Ada dua makna dalam menafsirkan mahabbatussuyuuil faahisyah (yang suka jikalau keburukan(faahisyah) itu merata -tersebar-)

  1. Cinta/senang dengan tersebarnya keburukan di kalangan muslimin saja. Diantaranya orang-orang yang senang menyebarkan film-film porno dan majalah-majalah pelacuran atau porno. Orang-orang yang semacam ini tidak diragukan lagi termasuk orang yang suka menyebarkan faahisyah di kalangan masyarakat muslim. Dan dia menginginkan dengan tersebarnya itu seorang muslim terfitnah (rusak akhlaknya), baik dirusak pada agama dia karna tersebarnya majalah-majalah. Dan yang demikian juga memberi kesempatan kepada mereka para penyebar padahal dia mampu untuk melarangnya (termasuk kepala keluarga, ketua RT, kecamatan, kabupaten, gubernur, presiden).

Termasuk faahisyah adalah selfie yang menarik yang bisa memfitnah/menggoda/membuat jantung lawan jenis berdebar-debar. Saya wasiatkan kepada mahasiswa dan mahasiswi agar tidak berselfie dan tidak menupload di internet.

Seseorang yang sengaja bermaksiat misal berzina dan dia menyebar videonya jika kita ridha maka termasuk juga, jangan-jangan kita termasuk dari mereka, na’uzdubillahi min dzalik

  1. Suka dengan tersebarnya berita faahisyah di orang2 tertentu, yakni gossip/berita burung/desas desus. Misal: si fulan melakukan demikian demikian tanpa sumber yang jelas. Sumber2 berita buruk biasanya dari orang fasik. Misal: kejadian ‘aisyah, orang2 hanya menyindir ‘aisyah: ‘apa yg dilakukan pemuda dan pemudi di tempat yang sepi yang tidak ada orang lain selain keduanya?”

Dan kecintaan yang kedua ini bukan di seluruh masyarakat tapi hanya pada person, contohnya berita fitnah terhadap ‘aisyah. Berita tentang kebohongan ‘aisyah adalah masyhur, kebiasan nabi kalau akan mengadakan sebuah perjalanan beliau biasanya mengundi siapa yang berhak ikut safar. Pelajaran: mengajak istri safar adalah nilai tersendiri / keistimewaan bagi istri. Ini bentuk keadilan nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Siapa saja yang keluar namanya maka ia akan keluar bersama nabi, ketika itu beliau mengundi dan yang keluar dalam undian adalah ‘aisyah. ‘aisyah adalah istri yang paling dicintai nabi. Akhirnya ‘aisyah diangkat di atas keranda kereta boyong (haudaj), suatu saat mereka bermalam dan ‘aisyah keluar dari haudaj untuk buang hajat. Qadarullah wa maa syaa-a fa’ala, ketika itu nabi memerintahkan untuk berangkat lagi dan tidak dibisa dibedakan apakah  ‘aisyah ada di dalam atau tidak. Ketika ‘aisyah kembali pasukan tidak ada dan beliau tetap tinggal di tempat itu, saat itu datanglah shafwan bin muaththal. Munculnya shafwan saat munculnya matahari. Shafwan baru bangun saat matahari baru terbit, dia melihat ‘aisyah dan mengenalinya. Shafwan dan ‘aisyah tidak becakap-cakap sepatah kata pun. Ketika waktu dhuha ‘aisyah dan shafwan sampai di madinah dan orang-orang munafik melihat perkara tersebut dan mereka melihat celah untuk mencela nabi. Yang mereka tuju bukan ‘aisyah tapi nabi, kalo istrinya seperti itu maka berarti pilihan nabi salah.

Kita sebagai seorang mukmin dilarang menyebar berita yang tidak jelas.

Diantara sahabat yang terjerumus dalam menyebarkan berita tidak jelas itu adalah: hasan bin tsabit, hamnah bin jahsy, misthah.

Hamnah saudari zainab bin jahsy, istri nabi zainab tidak terlibat dalam penyebaran berita ini, padahal biasanya jika ada madu melakukan kesalahan maka madu yang lain biasanya ikut menjelek-jelekan. ‘aisyah saat itu sakit dan dia tidak tahu kabar yang ada di luar.

Munafik tidak didera karna mereka tidak menyebarkan berita dengan sharih akan tetapi hanya sindiran-sindiran.

Ringkasan Ilmu Hadits Bagi Pemula  

Judul Asli : Syarh Tadzkirah fî ‘Ulumil Hadits Li Ibni Mulaqqin

Penyusun : Syaikh DR. Muhammad bin Hadi al-Madkhâlî hafizhahullahu

Penerjemah : Ustadz Bisri Tujang, Lc.

Editor : Tim Portal Islam

Publikasi : www.portal-islam.net

Cetakan : Pertama, 2012

Baca lebih lanjut

Penjelasan Hadits Niat (Hadits Arba’in ke-1)

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radhiyallahu’anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Baca lebih lanjut