Mengamalkan Tauhid dengan Sebenar-benarnya Bisa Menyebabkan Masuk Surga Tanpa Hisab

Yang dibahas dalam bab ini:

  1. Perbedaan bab ini dan bab sebelumnya
  2. Makna tahqiq tauhid (mengamalkan tauhid dengan sebenar-benarnya) dan macam-macamnya
  3. Sifat-sifat orang yang men-tahqiq tauhid

 

  1. Perbedaan bab ini dengan sebelumnya

Keutamaan-keutamaan tauhid yang disebutkan di bab kedua adalah hak bagi orang bertauhid yang tidak melakukan kesyirikan baik akbar maupun asghar akan tetapi orang ini terkadang terjerumus kedalam maksiat-maksiat yang maksiat ini terhapus dengan tauhidnya.

Adapun bab ini lebih tinggi dari bab sebelumnya. Orang-orang yang tidak menyekutukan Allah sedikitpun dan dia tidak punya dosa maksiat (ketika maksiat langsung bertaubat kepada Allah sehigga dosanya telah diampuni). Adapun orang yang sampai derajad sebelumnya maka terkadang ia diampuni oleh Allah dan terkadang diazab oleh Allah. (I’anatul mustafidz 74)

Bahasan pada bab kedua (yakni pada bab keistimewaan tauhid dan diampuninya dosa-dosa karenanya) didapatkan setiap orang yang bertauhid sedangkan bahasan pada bab ketiga (mengamalkan tauhid dengan murni sehingga masuk surga tanpa hisab) didapat oleh orang yang bertemu Allah tanpa dosa

Merealisasikan/mengamalkan tauhid dengan sebenar-benarnya maksudnya yakni membersihkan diri dari syirik (baik akbar maupun asghar), bid’ah, dan maksiat

Merealisasikan tauhid tidak akan terjadi kecuali dengan tiga perkara:

  1. Ilmu

Tidak mungkin bsia merealisasikan sesuatu kecuali harus mengilmui hakikat sesuatu itu. Tidak mungkin terlepas dari syirik, bid’ah, dan maksiat kecuali seseorang mengetahui haramnya hal tersebut.

  1. I’tiqad (Keyakinan)

Jika mengilmui (tahqiq tauhid) tetapi tidak meyakini bahkan justru sombong maka orang ini tidak dikatakan mentahqiq tauhid. Sebagaimana perkataan orang-orang musyrik dalam Al Qur’an:

أَجَعَلَ ٱلْءَالِهَةَ إِلَٰهًۭا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌۭ

Artinya:

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (QS. Shad:5)

  1. Inqiyad (Tunduk)

Jika mengilmui dan meyakini tapi tidak tunduk dan patuh bahkan dia malah sombong maka tidak dikatakan men-tahqiq tauhid. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَ يَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

Artinya:

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka “laa ilaaha illallah” mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami lantaran seorang penyair gila.” [QS. ash-shooffaat/37: 35-36].

  1. Makna tahqiq tauhid dan jenisnya

Men-tahqiq tauhid adalah Membersihkan diri dari syirik (baik akbar maupun asghar), bid’ah, dan maksiat

Jenis orang yang men-tahqiq tauhid ada dua macam:

  1. Tahqiq yang wajib

Seseorang dapat membersihkan tauhid dari syirik (baik akbar maupun asghar), bid’ah, dan maksiat

  1. Tahqiq yang mandub/sunnah

Orang yang dia sudah men-tahqiq yang wajib di samping itu dia melakukan amalan-amalan yang disunnahkan dan dia meninggalkan hal-hal yang makruh dan dia meninggalkan sebagian mubah yang dia khawatirkan melalaikan dari akhirat.

Manakah orang yang bisa tanpa azab dan tanpa hisab?

Cukup tahqiq wajib sudah mencukupi, orang yang men-tahqiq tauhid yang mandub derajatnya lebih tinggi

  1.  Sifat-sifat Orang yang Men-tahqiqTauhid
  1. a) Bersifat sebagaimana sifat imamnya orang yang bertauhid yakni Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [(120) سورة النحل

Artinya:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali kali ia bukanlah termasuk orang orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS, An Nahl, 120)

Sifat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdasarkan ayat di atas adalah:

  1. Beliau adalah ummah (أُمَّةً)(qudwah wal imam fil khoir) = teladan dan imam dalam kebaikan.
  2. Qaanitaat (قَانِتًا) = senantiasa istiqomah kepada Allah, tetap dalam ketaatan kepada Allah walaupun sedikit, dan mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah.
  3. Hanif (حَنِيفًا) =  berpaling dari kesyirikan menuju tauhid.
  4. (وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ) Dan tidak termasuk orang-orang yang musyrik = tidak termasuk orang musyrik dalam perkataan, tidak dalam amalnya, tidak juga dalam keyakinan beliau Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ibrahim mengingkari kaumnya yang melakukan kesyirikan dan berlepas diri dari mereka.

Islam: Pasrah kepada Allah dengan tauhid, tunduk dengan ketaatan, berlepas diri dan benci dengan kesyirikan.

  1. b)Orang yang bersifat sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al Mukminun ayat 57-60

إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ

وَٱلَّذِينَ هُم بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ

وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

وَٱلَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَٰجِعُونَ

Artinya”

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, (QS. Al Mukminun:57-60)

Penjelasan ayat

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,”

Maksud dari ayat di atas yakni membenarkan Al Qur’an dan mentadaburinya dan sibuk dengan Al Qur’an, dia memperhatikannya dan mengamalkan yang ada dalam Al Qur’an. Apa-apa yang Allah perintahkan mereka lakukan dan apa-apa yang Allah larang maka mereka tingalkan. Dan apa-apa yang Allah kabarkan mereka membenarkan dan imani baik yang ghaib maupun tidak. Dan sesuatu yang samar dalam Al Qur’an  mereka kembalikan ilmunya kepada Allah

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun),

Inilah dia tahqiq tauhid, yakni tidak melakukan kesyirikan selama-lamanya baik asghar maupun akbar. Maka mereka ini orang-orang yang benar-benar men-tahqiq tauhid.

‘”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,

Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan ketaatan dengan hati yang takut jika amal mereka tidak diterima.

Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka: menafikan pada diri mereka rasa bangga terhadap amal yang mereka lakukan, dia tidak bangga dan dia takut amalnya tidak diterima. Tidak mungkin kita bisa beramal kecuali karna kita mendapat hidayah taufiq dari Allah. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan dalam beribadah kepada Allah. Mereka yakin amalnya semata-mata karunia dari Allah

]والذين هم بربهم لا يشركون[

Artinya:

“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al Mu’minun, 59)

( I’anatul mustafidz 78-80)

  1. c) Tidak Meminta Diruqyah, Tidak Melakukan Tathayyur, Tidak Melakukan Kai, dan Bertawakal kepada Allah

Husain bin Abdurrahman As Sulami (salah satu tabi’in yang tsiqoh) berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Said bin Zubair (termasuk dari pembesar tabi’in baik dalam ilmu, wara, dan kefaqihan), lalu ia bertanya : “siapa diantara kalian melihat bintang yang jatuh (bintang yang digunakan untuk melempar syaithan) semalam ?, kemudian aku menjawab : “ aku ”, kemudian kataku : “ ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan sholat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku : “lalu apa yang kau lakukan ?”, aku menjawab : “aku minta di ruqyah ([1])”, ia bertanya lagi : “apa yang mendorong kamu melakukan hal itu ?”(tradisi para salaf selalu beramal dengan dalil), aku menjawab : “yaitu : sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi : “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu ?”, aku menjawab : “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib :

“لا رقية إلا من عين أو حمة”

“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain([2]) atau terkena sengatan (binatang berbisa)”.

(ini tidak menunjukkan pembatasan dalam ruqyah)

Said pun berkata : “Sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits kepada kami dari Rasulullah, beliau bersabda :

“عرضت علي الأمم، فرأيت النبي معه الرهط، والنبي معه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي : هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي : هذه أمتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب، ثم نهض فدخل منزله، فحاض الناس في أولئك، فقال بعضهم : فلعلهم الذي صحبوا رسول الله r، وقال بعضهم : فلعلهم الذين ولدوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا، وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله أخبروه، فقال :” هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون ” فقام عكاشة بن محصن فقال : ادع الله أن يجعلنى منهم، فقال : أنت منهم، ثم قال رجل آخر فقال : ادع الله أن يجعلني منهم، فقال  :” سبقتك عكاشة “.
“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat (terjadi pada saat malam isra mi’raj), lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku : bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku : mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang  yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu, kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu ?, ada diantara mereka yang berkata : barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata : barang kali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.

Kemudian Rasulullah ShallAllahu’alaihi wasallam keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda : “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathoyyur ([3]) dan tidak pernah melakukan kai (meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan), dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka, kemudian Ukasyah bin Muhshon berdiri dan berkata : mohonkanlah kepada Allah  agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda : “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata : mohonkanlah kepada Allah  agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah” (HR. Bukhori & Muslim)

Hadits 70 ribu orang yang bisa masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab tidak menunjukkan pembatasan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap 1000 dari 70.000 tadi ada 70.000 lagi. Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,

وَعَدَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعِينَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفاً

Rabbku ‘azza wa jalla telah menjajikan padaku bahwa 70.000 orang dari umatku akan dimasukkan surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Setiap 1000 dari jumlah tersebut terdapat 70.000 orang lagi.” (HR. Ahmad 5: 268. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dan sanad hadits ini hasan). Berarti berdasarkan hadits ini ada 4.900.000 orang yang dimaksud.

Nabi menjelaskan sifat orang-orang yang dapat men-tahqiq tauhid:

  1. Orang yang tidak meminta orang lain untuk meruqyahnya karna kuatnya tawakkal mereka kepada Allah dan karna kemuliaan jiwa mereka untuk merendahkan diri kepada selain Allah.
  2. Tidak meminta orang lain utnuk meng-kai dengan api. Kai hukumnya makruh.
  3. Tidak tathayyur. Tidak menganggap sial karena terbangnya seekor burung ke arah tertentu, atau tidak beranggapan sial dengan bulan/waktu tertentu.
  4. Hanya kepada Allah mereka bertawakkal. Tawakal: hanya bersandar kepada Allah di dalam dia mendapat segala perkara yang bermanfaat dan di dalam mencegah kemudharatan disertai mencari sebab yang terbukti secara syar’I dan qodari.

([1])    Ruqyah, maksudnya di sini, ialah : penyembuhan dengan bacaan ayat-ayat Al qur’an atau doa-doa.

([2])  Ain, yaitu : pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, melalui pandangan matanya. Disebut juga penyakit mata.

([3])  Tathoyyur ialah : merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.

([4])  Karena beliau bersabda kepada seseorang : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah”, dan tidak bersabda kepadanya : “Kamu tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka”.

HAKEKAT DAN KEDUDUKAN TAUHID

Syarah Kitabut Tauhid

BAB 1

TAUHID (HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA)

بسم الله الرحمن الحيم

Para ulama memulai kitabnya dengan بسم الله الرحمن الحيم karena:

  1. Mencontoh Al Qur’an. Al Qur’an diawali dengan بسم الله الرحمن الحيم
  2. Mencontoh Nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam. Beliau ketika menulis surat yang ditujukan kepada para pembesar suatu negeri seperti romawi dan persia diawali surat beliau dengan بسم الله الرحمن الحيم

Faedah menulis بسم الله الرحمن الحيم :

  1. Untuk isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah
  2. Untuk mengharap barakah. Barakah adalah bertambahnya kebaikan dan tetapnya kebaikn tersebut

Setelah menulis بسم الله الرحمن الحيم, Syaikh Muhammad At Tamimi memulai kitabnya dengan menulis كتاب اتوحيد (Kitaabu Tauhiid). Mengapa beliau tidak memulai muqadimah (pembukaan) kitab beliau dengan khutbatul hajjah?

  1. Maksud dari muqadimah adalah untuk menjelaskan apa yang akan dibahas dalam kitab (buku) dan judul “kitab tauhid” sudah cukup untuk menjelaskan
  2. Dalam rangka beradab kepada Allah. Tauhid adalah hak Allah. Allah lebih layak untuk menjelaskan tauhid.

Tauhid itu sendiri secara bahasa arab berasal dari kata ( وحّد- يوحّد-توحيدا ) yang artinya menjadikan sesuatu itu menjadi satu.

Tidak mungkin menjadikan sesuatu menjadi satu kecuali terpenuhi dua rukun yaitu nafyu (meniadakan selain sesuatu) dan itsbat (menetapkan sesuatu tersebut).

Misalnya: kita katakan,” Zaid sedang duduk di dalam masjid” maka statemen itu hanya itsbat (menetapkan) saja, yang berarti ada kemungkinan bahwa ada orang lain yang duduk di dalam masjid selain Zaid karena kita tidak menafikan (meniadakan) selain Zaid yang duduk di masjid tersebut.

Sedangkan jika kita katakan, “ Tidak ada yang duduk di dalam masjid kecuali Zaid” maka dalam hal ini sudah terpenuhi dua rukun. Yang pertama kita meniadakan bahwa tidak ada seorang yang duduk dalam masjid dan yang kedua kita menetapan bahwa hanya Zaid yang duduk dalam masjid sehingga dari statemen di atas hanya ada satu kemungkinan yaitu yang duduk di masjid hanya Zaid saja, tidak ada yang lain. Oleh karena itu makna kalimat tauhid لا اله لاالله adalah tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, jadi kita meniadakans egala yang disembah selain Allah dan menetapkan bahwa hanya Allah saja yang berhak diibadahi dengan benar, segala yang disembah selain Allah adalah bathil (salah).

Tauhid secara istilah syari’at bermakna mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan asma wa shifat-Nya.

  1. Tauhid rububiyah (Mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya) adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya. Kita meyakini bahwa hanya Allah saja yang mampu menciptakan alam semesta, mgatur alam semesta, menghidupkan lagi mematikan, memberi rizki kepada para mahluk, yang akan mengadili dengan seadil-adilnya di hari kiamat, dll yang merupakan kekhususan bagi Allah dan hanya Allah yang mampu melakukan hal tersebut.
  2. Tauhid uluhiyah (Mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya) adalah mengesakan Allah dalam ibadah (perbuatan hamba). Ibadah merupakan perbuatan hamba yang hanya boleh ditujukan kepada Allah. Segala ibadah baik doa, sholat, puasa, zakat, haji, nazar, sembelihan, istighosah, takut, harap, tawakal, dll hanya boleh kita tujukan kepada Allah saja, tidak kepada yang lain. Mengenai makna ibadah akan datang penjelasannya nanti.
  3. Tauhid asma wa shifat (Mengesakan Allah dalam nama-nama dan shifat-Nya) adalah menetapkan nama-nama dan sifat Allah sesuai sebagaimana yang ditetapkan Allah dan rasul-Nya sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Manusia dan jin diciptakan dengan suatu tujuan tertentu sebagaimana dalam ayat berikut:

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون[ِ (الذريات:56)

Artinya:

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).

Apa itu ibadah?

Makna ibadah secara bahasa: merendahkan diri dan tunduk patuh

Makna ibadah secara syar’i:

  • Secara umum: merendahkan diri yang perendahan ini didasari kecintaan dan pengagungan yang kita wujudkan dengan melakukan perintah dan menjauhi larangandengan apa-apa yang sesuai dengan syariat.
    Fungsi dari definisi ini adalah: untuk menunjukkan sah tidaknya suatu ibadah
  • Secara khusus: sesuai definisi ibnu taimiyyah yaitu ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir)

Kaedah: Perbuatan apa saja yang merupakan ibadah maka menujukan kepada Allah adalah tauhid dan memalingkan kepada selain Allah adalah syirik akbar

Dalil kaedah ini sangat banyak, diantarnya:

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا

wa’budullaha walaa tusyriku bihi syaiaa

artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. ” (QS. An-Nisaa:36)

Contoh: doa adalah ibadah, maka jika dipalingkan kepada selain Allah maka syirik akbar.

 

Ibadah itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu perkataan dan perbuatan

Ibadah yang merupakan perkataan juga dibagi menjadi dua yaitu ibadah perkataan yang lahir dan yang batin

1. ibadah perkataan yang lahir. contohnya: dzikir, membaca Al Qur’an, berdakwah, dll

2. ibadah perkataan yang batin. contohnya: niat, keyakinan, dll

 

Ibadah yang merupakan perbuatan juga dibagi menjadi dua yaitu ibadah perbuatan yang lahir dan yang batin

1. ibadah perbuatan yang lahir. contohnya: sholat, puasa, zakat, haji, dll

2. ibadah perbuatan yang batin. contohnya: cinta, takut, harap, tawakal, dll

 

Sebagaimana yang telah kita ketahui, kita diciptakan Allah untuk beribadah hanya kepada-Nya dengan cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Tauhid merupakan kunci masuk surga dan hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah karena Allah telah memberikan kita hidayah iman dan islam yang hal ini merupakan nikmat yang sangat besar dan hendaknya kita selalu menjaganya sebgai wujud syukur kita kepada Allah Ta’ala. Ada beberapa alasan mengapa kita harus senantiasa memuji Allah Ta’ala:

  1. Allah satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna, tidak ada aib sedikitpun, Allah sempurna dalam rububiyah, nama-nama dan sifat-Nya.
  2. Begitu banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat terbesar adalah nikmat iman dan cara kita mensyukurinya adalah dengan berusaha agar nikmat Islam dan sunnah tetap ada pada diri kita, tetap istiqomah dalam beragama dan salah satu caranya adalah dengan tetap menuntut ilmu agama.

Dalam masalah akidah (keyakinan) seorang tidak boleh taklid buta melainkan dia harus mengambil keyakinannya bersumber dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih meskipun dia tidak menghafalnya.

Kitab tauhid ini menjelaskan mengenai tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, meninggalkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah dan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya, dan perkara-perkara yang bisa meniadakan tauhid baik  secara keseluruhan maupun sebagian.

Kedudukan tauhid

  1. Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya

(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون (الذريات:56

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).

Ayat ini menunjukkan tauhid: Allah menciptakan manusia dengan satu tujuan yaitu hanya beribadah (mentauhidkan) Allah Ta’ala.

Syaikh alu syaikh menjelaskan bahwa: Dalam ayat ini ada unsur pembatasan, huruf maa (ما) nafi disertai huruf illa (الا) maka hal ini menunjukkan pembatasan maka makna ayat ini adalah Aku telah ciptakan jin dan manusia untuk tujuan yang satu yaitu ibadah bukan tujuan lainnya

Syaikh fauzan menjelaskan bahwa: Ayat ini menjelaskan makna tauhid. Yaitu yang dimaksud tauhid adalah ibadah. Dan bukanlah tauhid yang dituntut Allah hanya sekedar menetapkan Allah dalam rububiyyah. Makna yang diinginkan Allah dalam ayat-ayatnya adalah tauhid ibadah.

Makna tauhid: mengikhlaskan/memurnikah ibadah hanya kepada Allah Ta’ala.

  1. Hikmah diutusnya para Rasul

Para Rasul diutus untuk menjelaskan tauhid.

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت(النحل: من الآية:36

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut([1]).” (QS. An Nahl, 36).

Ibnu abbas berkata: manusia selama 10 qurun waktu hidup di atas tauhid. Pada masa itu Allah tidak mengutus seorang rasul pun,yang ada adalah nabi, baru diutus rasul ketika terjadi pelanggaran tauhid uluhiyyah yaitu zaman nabi Nuh ‘alaihissalam. Tidaklah terjadi penyimpangan dari suatu kaum melainkan akan Allah utus bagi kaum tersebut rasul.

  1. Tauhid adalah hal pertama yang Allah perintahkan dalam kewajiban-kewajiban.

]وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا[

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”(QS. Al Isra’, 23-24).

]قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[

“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 151-153).

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang tertera di atasnya  cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanahu wata’ala : “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.([2])

  1. Tauhid hak Allah atas seorang hamba.

Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu berkata :

كنت رديف النبي  على حمار، فقال لي :” يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : ” لا تبشرهم فيتكلوا “.

“Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku : “ wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena Khawatir mereka nanti bersikap pasrah”([3]) (HR. Bukhari, Muslim).

 

    Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini :

  1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah Ta’ala.
  2. Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.
  3. Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada  Allah Tabaroka wata’ala inilah sebenarnya makna firman Allah :

]ولا أنتم عابدون ما أعب[

“Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun, 3)

  1. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].
  2. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.
  3. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [mengesakan Allah Subhanahu wata’ala saja].
  4. Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut.

Dan inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wata’ala :

]فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى[

“Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah, 256).

  1. Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah.
  2. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, didalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.
  3. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra’ mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah :

]لا تجعل مع الله إلها آخر فتقعد مذموما مخذولا[

“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra’, 22).

Dan diakhiri dengan firmanNya :

]ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى في جهنم ملوما مدحورا[

“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al Isra’, 39).

 

Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya:

]ذلك مما أوحى إليك ربك من الحكمة[

“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra’, 39).

  1. Satu ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’, disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya:

] واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا [

“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’, 36).

  1. Perlu diingat wasiat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di saat akhir hayat beliau.
  2. Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.
  3. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.
  4. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat([4]).
  5. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.
  6. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.
  7. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.
  8. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
  9. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.
  10. Kerendahan hati Rasulullah, sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.
  11. Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.
  12. Keutamaan Muadz bin Jabal..

([1])   Thoghut ialah : setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.

([2])   Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.

([3])  Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.